[Review] The Best Moment to Quit Your Job; Resign Berjamaah

Lima wanita—Kim Yeon Ji, Hyun Yi, Nam Hee, Hye Young, dan Seon Hee—mempunyai kesulitan dan tantangan sendiri-sendiri untuk menjalani kehidupan mereka. Kim Yeon Ji, desainer baru yang harus bekerja di pabrik tisu basah setelah sebelumnya mempunyai masalah dengan pekerjaan sambilannya sebagai kasir minimarket. Yeon Ji memiliki tiga sahabat, Hyun Yi—seorang guru honorer yang belum lulus sertifikasi guru, Nam Hee, seorang desainer produk yang punya cita-cita menulis WebToon, dan Hye Young, pastry chef yang selalu ingin menambahkan cupcake di menu toko roti tempat ia bekerja.

Kalau kamu mencari film dengan berjuta-juta romance scene, fantasi, atau komedi, kamu mungkin harus mengeluarkan judul drama ini dari list kamu. The Best Moment to Quit Your Job nggak menyuguhkan hal-hal tersebut—atau at least aku bisa bilang scene romantis, dan komedinya itu sedikit banget. Drama ini lebih cocok dikategorikan sebagai slice of life yang memuat realitas yang dialami oleh wanita di dua puluhan, atau yang baru saja terjun pertama kali ke dunia kerja.

Cerita diawali dengan kegelisan Yeon Ji yang hanya memiliki pekerjaan sebagai kasir minimarket. Dia menginginkan pekerjaan yang lebih stabil. Pada masa itu juga, Yeon Ji harus putus dari pacarnya. Setelah melamar di berbagai tempat, akhirnya ia diterima bekerja di sebuah pabrik tisu basah. Kerjaannya ngapain? Bukan desain sesuai kuliahnya, tapi lebih ke production planning dan product/inventory control. Di pabrik itu, dia memiliki atasan bernama Seon Hee, seorang wanita yang lebih tua dari Yeon Ji. Seon Hee adalah tipe-tipe atasan wanita yang tidak mau tersaingi. Sadar atau tidak, di tempat kerja mungkin kamu akan menemui tipe atasan seperti ini. Galak, jutek, nggak mau tersaingi, nggak suka ngajarin anak baru tentang pekerjaan dan yang paling penting, apa pun yang kamu lakukan akan seolah-olah mengganggunya.

Drama ini terdiri dari 8 episode yang masing-masing berdurasi satu jam. Setiap episode berisi cerita masing-masing orang, terbagi pada bagian-bagian yang berbeda. Jika Yeon Ji harus berusaha keras beradaptasi dengan Seon Hee dan menjadi maknae yang harus rela disuruh ini itu—bahkan ketika ia disuruh mengerjakan pekerjaan yang tidak berada dalam scope-nya, berbeda lagi dengan Hyun Yi.

Hyun Yi adalah seorang guru muda di sebuah sekolah dasar. Sayangnya, dia tidak lulus sertifikasi guru sehingga hanya bertitel sebagai guru honorer. Hyun Yi tinggal di sebuah kamar kecil yang hanya berdindingkan tripleks sehingga dia kesulitan belajar sepanjang malam karena suara dari kamar sebelahnya. Cerita Hyun Yi menyimpan pesan bahwa terkadang sekeras apa pun kita berusaha, sesuatu yang kita inginkan belum tentu kita dapatkan. Lalu apa yang harus kita lakukan? Berusaha lebih keras. Di sekolah, Hyun Yi bertemu dengan seorang guru laki-laki dan berkencan.

Sementara itu, Hye Young yang seolah tidak punya masalah—setidaknya begitu menurut teman-temannya—ternyata harus menahan ambisinya sebagai seorang pastry chef untuk membuat menu cupcake di toko roti tempatnya bekerja. Beban pekerjaan yang sangat berat dan menjadi satu-satunya pastry chef di sana membuat Hye Young lelah. Ditambah lagi Hye Young memiliki masalah pada kakinya ketika ia berdiri terlalu lama. Karena Hye Young adalah tipe yang mengatakan sesuatu secara langsung pada bosnya, dia meminta tambahan orang yang membantunya dan datanglah satu orang anak magang perempuan di sana untuk membantunya. Semua sahabatnya mengira Hye Young selalu baik-baik saja dalam pekerjaan, siapa sangka ia malah sering terkena omelan dari pemilik toko roti tersebut.

 

Yakin, deh, semua pasti pernah merasakan apa yang dibilang Hye Young di atas itu, kan? Sementara itu, Nam Hee, selalu bekerja tenggo dan dianggap tidak capable ketika seorang karyawan baru masuk dan selalu lembur. Nam Hee memilih keluar dari tempat kerjanya di perusahaan online shopping dan banting setir menjadi freelancer merangkap membuat WebToon. Ternyata, bekerja keras untuk memenuhi mimpinya sebagai Webtoonist tidak mudah. Nam Hee kesulitan mendapatkan inspirasi, membuat cerita mengena abusive relationship dan mendapat cacian dari para pembaca, belum lagi kesulitan keuangan dan kesulitan lainnya sebagai freelancer terus menyiksanya. Menjadi satu-satunya wanita yang memperjuangkan passion-nya, Nam Hee sama sekali tidak merasa puas.

Satu lagi pemeran karakter drama ini adalah Seon Hee. Di usia yang tak lagi muda, dia terjebak bekerja di industri tisu basah yang tak seberapa besar itu dan memiliki masalah akan hubungan-hubungannya dengan para pria. Seon Hee akan selalu merasa tersinggung ketika Yeon Ji melakukan sesuatu, hal tersebut karena dia lelah. Seon Hee sudah lama mengubur mimpi-mimpinya, jauh ketika dia memutuskan untuk bekerja di pabrik tersebut. Jika dilihat, karakter Seon Hee memang punya kesempatan besar membuat orang kesal. Akan tetapi, dia memiliki masalah keluarga yang membuat Seon Hee—anak pertama di keluarga—yang harus memikul beban mencari nafkah.

Masing-masing pilihan, jalan hidup, dan reaksi yang dihadapi masing-masing karakter memiliki latar belakang dan alasan yang berbeda. Tetapi ada satu kesamaan di antara lima karakter yang disuguhkan dalam drama tersebut. Tidak ada satu pun yang melalui hidup mereka tanpa kesulitan. Semua mengalaminya dan yang paling penting adalah bagaimana setiap karakter menerima dan menghadapi masing-masing konflik tersebut.

Ada satu kalimat yang diucapkan Nam Hee yang cukup mengena dalam drama ini. Begini bunyinya, “Do you know what to do when you’re alone in desert? You walk one step at a time and get out of there. Just hoping someone would save you and standing there doing nothing won’t help.”

Setelahnya, Yeon Ji akhirnya dapat mencuri hati Seon Hee dan bekerja dengan baik. Dia lulus masa percobaan selama tiga bulan dan menjadi karyawan tetap. Akan tetapi, semakin lama Yeon Ji merasa bahwa pekerjaan itu bukanlah pekerjaan yang membuatnya puas. Seorang supervisor yang tidak menyukainya, dan manager yang dengan mudahnya termakan omongan supervisor-nya. Yeon Ji memutuskan untuk berhenti bekerja. We got irritated too sometimes. Mungkin jika kamu mengalaminya—mempunyai atasan yang sama sekali tidak menyukaimu—kamu bisa mulai berpikir apakah kamu harus mengubah sesuatu dalam dirimu, atau atasanmu memang nggak suka dan mencari-cari alasan untuk mengeluarkanmu.

Di sekolah Hyun Yi, dia bertemu dengan seorang laki-laki yang mengajaknya berkencan. Karena itu, Hyun Yi dikecam oleh kepala sekolah dan masih harus mendapati bahwa laki-laki yang mendekatinya akan menikah. Ini juga sepertinya sering terjadi. Kantor memang bukan tempat yang tidak mungkin untuk mendapatkan pasangan. Tetapi, mudah percaya dan tidak berpikir panjang juga dapat membahayakan dirimu. Pada akhirnya, Hyun Yi pun memilih untuk keluar dari pekerjaannya.

Nam Hee akhirnya tahu bahwa menjalani passion tidak semenyenangkan yang dia pikirkan. Semua tidak berjalan semulus yang dia harapkan. Dia menghentikan Webtoon-nya dan juga pekerjaan freelance-nya kemudian pulang ke kampung halamannya. Setelah mendengar nasihat ibunya, Nam Hee sadar, semua memiliki tantangan yang berbeda dan tidak ada yang bisa kita tahu sebelum memasuki tahap itu. Nam Hee akhirnya memutuskan untuk menulis lagi Webtoon dengan cerita yang dialaminya bersama sahabatnya.

Hye Young punya masalah lain di tempat kerja. Dia menyukai anak magang yang membantunya. Sebelum bisa mengungkapkan perasaannya, Hye Young lebih dulu tahu bahwa dia mempunyai seorang pacar. Akhirnya Hye Young memutuskan mengubur perasaannya dalam-dalam hingga anak magang itu keluar. Sementara itu, karena manager di toko rotinya tidak memperbolehkannya membuat cupcake, Hye Young membuatnya di rumah dan menjualnya seorang diri. Hye Young akhirnya berani memulai apa yang ingin dilakukannya.

Pertama kali saya memutuskan menonton ini, saya berpikir drama ini akan menyuguhkan kisah-kisah tentang orang-orang yang ingin berhenti bekerja. Sebagai mbak-mbak kantoran berusia kepala dua, tentu saya pikir ini cukup relatable. Jadi, saya tonton dan mengambil beberapa kesimpulan dan pelajaran. Semua pekerjaan punya kesulitan masing-masing dan kita punya hak untuk berhenti kapan pun asal sudah memikirkannya dengan baik. Ada hal-hal yang harus dipertimbangkan ketika kita akan berhenti bekerja—misalnya kesulitan ekonomi seperti yang Nam Hee sedikit risaukan. Satu lagi, drama ini mengajarkan bahwa kita tidak bisa menjalani hidup mulus-mulus saja atau malah menjalaninya seperti seorang profesional karena kita belum pernah menjalani itu sebelumnya. Seperti yang didengar Nam Hee dari ibunya, “Everyone’s doing it for the first time. Whether we turn 26, 30, or 40, it’s our first time. It’s our first time in life. We can’t be good at it. My mom said even a 70 years old grandma makes mistakes.”

Jadi, saya rekomendasikan drama ini nggak? Selera orang pasti berbeda. Drama ini benar-benar isinya itu tentang kehidupan pekerjaan dan struggle masing-masing karakternya. Romance tipis yang sepertinya nggak perlu dihitung. Kalau kamu butuh tontonan yang agak serius dan cukup bikin “oh iya, gitu ya” yang berarti cukup relatable sama kamu, wanita di usia dua puluhan, mungkin kamu cocok nonton ini. Tapi karena saya adalah penggila drama korea dengan genre fluff romance, drama ini belum bisa memuaskan jiwa mbak-mbak-kantoran-haus-drama seperti saya. (brb cari romance drama lagi)

Rating : 6.5/10

*

Judul : The Best Moment to Quit Your Job

Episodes : 8

Broadcast Network : Lifetime

Cast :

  • Go Won Hee as Kim Yeon Ji
  • Lee Chung Ah as Seon Hee
  • Jei as Nam Hee
  • Jung Yun Joo as Hye Young
  • Kim Ji Eun as Hyun Yi
  • Yoon Jong Hoon as Dae Woon
  • Go Kyung Pyo as Min Woo
  • Kim Ji In as Min Seo

(source: wiki.d-addicts)

est. 1993. author. stationary addict. wanderer. half unicorn, half hooman.

You may also like

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *