[Review] Mary Poppins Returns: Mengingat Kembali Jiwa Kanak-kanak yang Terlupakan

Beberapa waktu lalu, ketika saya memutuskan pergi ke bioskop karena sudah terlalu bosan berada di kamar, sulit rasanya menentukan film apa yang akan saya tonton. Antara empat pilihan (Aquaman, Bumblebee, Mary Poppins Returns, dan Milly & Mamet), akhirnya saya memilih Mary Poppins Returns. Oh, rasanya sayang saja melewatkan film Disney sejenis ini. Terakhir setelah menonton film Christopher Robin beberapa bulan sebelumnya, saya menyadari ada rasa hangat yang didapat selepas menontonnya. Rasa hangat yang menjadi pelarian dari rutinitas orang dewasa yang padat dan melelahkan, pelarian dari kehidupan yang semakin rumit dan dipenuhi dengan banyak hal yang semakin tidak bersahabat.

credit: impawards.com

Mary Poppins Returns merupakan sekuel dari film Mary Poppins yang ditayangkan tahun 1964, berdasarkan buku seri berjudul sama yang ditulis oleh P.L. Travers. Di film pertamanya, diceritakan bahwa Mary Poppins menjadi pengasuh bagi anak-anak keluarga Banks yang tinggal di Cherry Lane, London. Pada sekuelnya, Mary Poppins  (Emily Blunt) kembali pada keluarga Banks, menjadi pengasuh bagi anak-anak dari keluarga Banks lagi, anak-anak dari Michael Banks—anak yang pernah diasuhnya di film pertama. Anak-anak dari film pertama, Jane dan Michael, kini sudah tumbuh menjadi orang dewasa. Jane Banks (Emily Mortimer) adalah seorang aktivis, sementara Michael Banks (Ben Whishaw) adalah seorang bankir yang belum lama kehilangan istrinya. Michael dan ketiga anaknya menempati rumah keluarga Banks yang sayangnya suatu hari diberitahukan harus disita oleh bank. Jane dan Michael berusaha mencari sertifikat saham bank milik ayah mereka untuk menyelamatkan rumah keluarga mereka. Ketika kekacauan itu terjadi, Mary Poppins datang untuk membantu.

Di awal film, tiga anak Michael, Annabel (Pixie Davies), John (Nathanael Saleh), dan Georgie (Joel Dawson), terlihat begitu serius untuk ukuran anak kecil. Tapi ketika Mary Poppins datang, mereka perlahan-lahan diajak kembali untuk bersenang-senang dan belajar lewat imajinasi, serta keajaiban yang dibawa Mary Poppins. Mary Poppins memberikan kebahagiaan kembali pada tiga anak keluarga Banks. Petualangan mereka ditemani dengan kehadiran Jack (Lin-Manuel Miranda), si penyulut lentera yang menjadi teman baik Mary Poppins.

Tebakan saya ternyata benar. Selesai menonton film ini, saya diliputi perasaan hangat, perasaan bahagia. Film ini adalah film keluarga yang bisa membuat semua anggota merasa hangat. Anak-anak yang menonton bisa menikmati bagaimana petualangan tiga anak keluarga Banks bersama Mary Poppins dan Jack, sementara orang dewasa yang menonton dapat kembali mengingat-ingat jiwa kanak-kanak mereka yang mungkin sempat terlupakan. Sama halnya seperti Michael Banks, kita orang dewasa seringkali melupakan jiwa kanak-kanak yang kadang dibutuhkan. Sewaktu kecil, kita bisa berimajinasi menjadi apa saja, kita bisa melakukan apa pun. Namun jika kita lihat diri kita sekarang, berapa banyak ketakutan yang kita simpan yang ternyata malah menghalangi potensi yang kita miliki. Kita lupa bahwa kita sebenarnya bisa, hanya saja kita terlalu takut untuk melangkah, takut salah. Ketika kita takut, mungkin sebaiknya panggil kembali jiwa kanak-kanak kita dan mulai percaya bahwa keajaiban mungkin saja ada, dia hanya bertransformasi menjadi potensi dan kepercayaan diri.

“Everything is possible, even the impossible.”

Selain hal-hal tentang bagaimana cara menikmati hidup seperti anak-anak, beberapa kata-kata Mary Poppins dalam film ini menyentil kita sebagai orang dewasa. Saya yakin beberapa kali saya merasa tersentil karena konversasi Mary Poppins dan karakter lainnya. Mary Poppins mengatakan “We’re on the brink of adventure, children. Don’t spoil it with questions.” Oh, seberapa sering kita bertanya tentang hal yang seharusnya mungkin tidak perlu ditanya? Seberapa sering orang dewasa menebak apa yang terjadi di depan sana ketika mereka baru saja melangkah satu langkah kecil? Pikirkan kembali ketika kita kecil dulu, apakah kita berpikir tentang apa yang ada di balik pohon kemudian berhenti berlari ke pohon itu hanya karena pertanyaan-pertanyaan yang sama sekali tidak bisa kita jawab sebelum kita berlari ke arahnya? Ya, overthinking kills the adventure.

Film musikal ini juga berhasil mencuri perhatian dengan beberapa lagunya yang riang, berwarna, dan memiliki lirik yang bermakna. Seperti lagu A Cover is Not The Book dengan liriknya “A cover is not the book. So open it up and take a look.” Sesuatu yang dari luar terlihat terang, ceria, berwarna, bisa jadi memiliki isi yang gelap. Begitu juga sebaliknya. Ketika kita berhadapan dengan sesuatu dan nyaris saja memutuskan sesuatu hanya dari lapisan luarnya, ingat-ingat lagu yang dinyanyikan Mary Poppins dan Jack itu. A cover is not the book.

Lagu kesukaan saya pada film ini berjudul The Place Where Lost Things Go. Lagu ini dinyanyikan oleh Mary Poppins ketika dirinya dan tiga anak keluarga Banks berbicara tentang ibu mereka yang sudah meninggal. Selain suara Emily Blunt yang membuat lagu ini terdengar syahdu, saya meresapi kalimat per kalimat dalam liriknya. “Nothing is gone forever, only out of place. After all, you can’t lose what you never lost.” Ketika kita kehilangan seseorang untuk selama-lamanya, sebenarnya kita tidak kehilangan. Mereka tetap hidup, hanya saja di tempat yang berbeda. Di dekat bintang? Di balik bulan? Atau bahkan di hati kita masing-masing?

“For when you dream, you’ll find all that’s lost, is found.”

Masih kalimat dari potongan lirik lagu kesukaan saya. Kalimat itu mengingatkan kita ketika kehilangan (seseorang, harapan, semangat), mungkin kita perlu bermimpi lagi, kita perlu yakin kembali untuk menemukan apa yang hilang itu.

Mary Poppins Returns tidak menyuguhkan sesuatu yang kompleks. Perbincangan politik, baku hantam, kebencian yang mendarah daging, atau hal-hal lainnya yang mungkin kita temukan di film lain. Saya bisa bilang film ini hanya menyuguhkan kebahagiaan dan kehangatan. Jika kamu tidak masalah bermain dengan fantasi dan imajinasi, atau jika kamu mulai lelah dengan hidup dan ingin sebentar saja kembali merasakan jadi anak-anak, saya sarankan untuk menonton Mary Poppins.

Karakter Mary Poppins yang diperankan oleh Emily Blunt sangat menghipnotis. Mary Poppins punya kharisma dan kehangatan yang berhasil menyulap saya sebagai penonton untuk masuk dalam cerita. Saya tersenyum dan mengikuti hentakan-hentakan dari lagu seperti anak-anak Banks. Mary Poppins Returns sukses merebut hati saya dan menjadikannya salah satu film kesukaan saya di tahun 2018.

Data Film

Sutradara: Rob Marshall

Skenario: David Magee

Pemeran: Emily Blunt, Lin-Manuel Miranda, Ben Whishaw, Emily Mortimer, dll

Rilis: Desember 2018 (Indonesia)

Genre: Family, Musical, Fantasy

IMDb rating: 7.3/10

Rating pribadi: 4/5

maybe you'll like this too

3 Comments

  1. Emily Blunt lagi naik daun ya, kabarnya lobi yg hebat buat doi demi film ini (terbaca gossip) wkwkwk
    Blom ada niat mau nonton MP versi baru karena masih ingat versi jadulnya..ahaha

  2. Duuh kemarin2 ragu mau nonton ini karena takut bosen nonton genre ini di bioskop, karena gw fans tembak-tembakan garis keras :)) jadi pengen nonton, apa ehm ilegal atau nunggu tv kabel 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.