Christopher Robin; Kehidupan Hari Ini dan Kebahagiaan

“Doing nothing often leads to the very best of something.” – Pooh

Waktu kecil dulu, siapa yang nggak pernah bermimpi ingin cepat dewasa? Nyaris semua orang di masa kecilnya mungkin berpikir bahwa menjadi orang dewasa itu lebih keren ketimbang menjadi anak kecil. Beberapa dari kita mungkin malah kehilangan masa kecil karena begitu memaksakan diri menjadi dewasa lebih cepat. Otoritas dan keistimewaan orang dewasa di mata anak-anak mungkin terasa seperti surga. Orang dewasa boleh menolak ketika disuruh melakukan sesuatu, bisa mengerjakan apa pun yang mereka inginkan, bisa menyuruh-nyuruh anak kecil, dan segala macam hal lainnya yang bisa dilakukan tanpa harus mendengar embel-embel ‘nanti kalau kamu udah gede, ya’.

Tapi ketika masih kecil, kita nggak pernah tahu hal-hal yang sebenarnya menunggu kita ketika beranjak dewasa. Kecemasan akan tagihan bulanan yang terus-terusan mengejar tanpa ampun, interaksi sosial, pilihan politik yang pro dan kontra dalam masyarakat, belum lagi kecemasan-kecemasan lainnya yang malah membuat orang dewasa kesulitan untuk merasa bahagia. Hal-hal yang hilang ketika kita tumbuh dewasa, kesulitan, juga tantangan, sedikit banyaknya tersampaikan dalam film garapan Disney terbaru, Christopher Robin.

Dikisahkan di masa kecilnya, Christopher Robin seringkali bermain di Hundred Acre Wood bersama teman-temannya, Winnie The Pooh, Tigger, Piglet, Rabbit, Owl, Eeyore, Kanga dan Roo. Tapi sayangnya masa kecil tidak berlangsung selamanya. Pun dengan milik Christopher Robin. Christopher kecil dengan berat hati harus meninggalkan teman-teman masa kecilnya untuk masuk ke boarding school.

Seperti layaknya manusia dan perkembangannya, Christopher Robin mengalami banyak hal setelah lepas dari masa kecil. Sekolah, bertemu dengan wanita, menjalani wajib militer, menikah, bekerja di perusaan dan juga memiliki anak. Hal-hal lumrah yang kerap menjadi standar hidup orang dewasa di masyarakat. Pertanyaannya adalah, apakah setelah mengalami itu semua lantas ia merasa bahagia?

Iya. Pada awalnya Christopher Robin bahagia. Punya istri cantik dan seorang anak perempuan yang tak kalah cantik, juga pintar. Dia menjalani kehidupan seperti orang dewasa pada umumnya. Bekerja di perusahaan dan punya posisi yang cukup bagus. Dia—dan mungkin kita, juga nyaris kebanyakan orang—merasa bahwa dengan memiliki pekerjaan di perusahaan, semua hal akan menjadi mudah. Uang akan mengalir lancar untuk mempermulus kehidupan. Tidak dapat dipungkiri memang, uang memang kerap mempermudah hidup. Film Christopher Robin menunjukkan pada kita bahwa secara tidak langsung, mendapatkan pekerjaan di perusahaan telah menjadi standar yang tumbuh dan berkembang di masyarakat.

Siapa sangka ternyata bekerja di perusahaan saja ternyata tidak serta merta membuat Christopher bahagia. Ada hal yang harus dikorbankannya demi uang, yang menurutnya akan membawa keluarganya hidup dengan baik. Demi pekerjaan dan uang, sebagian diri Christopher Robin perlahan-lahan sebenarnya telah menjauh dari keluarganya. Lambat laun, Christopher kehilangan percikan-percikan kegembiraan dalam hidupnya.

Tidak berhenti sampai di sana. Ketika sang tokoh utama merasa bahwa pekerjaan adalah nomor satu dalam hidup dan melupakan kesenangan masa kecil, sahabat, bahkan keluarga. Ada momen-momen di mana keluarga Christopher Robin sudah menunjukkan bahwa mereka membutuhkan dirinya berada di antara mereka. Tetapi hanya sampai di sana, keluarganya tidak bisa melakukan apa-apa lagi. Saat Christopher bertemu kembali dengan Pooh dan membantunya kembali pulang, sesaat ia meninggalkan pekerjaan yang mengikatnya nyaris sehari penuh, tujuh hari seminggu. Dia mengalami petualangan yang membuatnya mengalami kembali percikan kegembiraan masa kecilnya yang nyaris hilang.

Di luar karakter Winnie The Pooh yang menggemaskan, polos dan clumsy, juga karakter teman-teman Christopher Robin lainnya yang sangat dekat dengan kehidupan masa kecil kita, film ini begitu sarat makna. Salah satu bagian kesukaan saya adalah ketika kalimat ini diucapkan oleh Evelyn—istri Christopher Robin.

“Your life is happening right now in front of you.”

Kemarin dan besok adalah hal yang tidak dapat kita jangkau dengan tangan kita. Hidup kita adalah yang berlangsung sekarang. Saat ini juga dan kita kerap kali lupa. Dari bagian-bagian kecil seperti itu di film tersebut, Christopher Robin seolah datang sekaligus sebagai pengingat untuk kita, orang dewasa yang melupakan esensi kehidupan karena terlalu fokus mengejar sesuatu yang entah apa. Uang, ketenaran, atau mungkin karier.

Ada stigma lain yang dibangun pada film tersebut. Madeline—anak perempuan Christopher—selalu mendambakan waktu bersama sang ayah, yang sayangnya selalu menyuguhkan sesuatu yang terpaksa harus Madeline lakukan. Madeline harus belajar dan membaca buku terus-menerus, bahkan kehilangan kesempatan mendengarkan dongeng favoritnya sebelum tidur.

Pertanyaaannya, apakah salah jika mengisi masa kecil anak-anak dengan kesenangan? Permainan, buku bacaan yang mereka suka, eksplorasi yang bisa mereka lakukan, bukankah itu lebih menyenangkan alih-alih setumpuk buku teks. Beberapa bagian film menunjukkan betapa miris sosok orang tua yang meminta anaknya melakukan banyak hal, alih-alih membentuk anaknya menjadi pribadi si anak yang unik, mereka malah membentuknya menjadi pribadi seperti proyeksi sang orang tua pada anak, yang akhirnya membuat tekanan pada mereka.

“I always get to where I’m going by walking away from where I have been.”

Dalam film tersebut, dengan kata-katanya yang sederhana dan polos, Pooh berkali-kali membuat saya malah berpikir di film ini. Kata-katanya memang sederhana, tetapi butuh diam lebih lama dulu untuk memahami maknanya. Seperti kutipan di atas. Kadang, kita harus berjalan ke arah lain untuk mendapatkan apa yang kita inginkan. Kadang kita harus melangkah. Jika kita merasa tidak berkembang di suatu tempat, harusnya kita melangkah ke arah lain, mencari tempat berkembang yang lain. Sometimes, when somewhere doesn’t feel right for you, you need to find another ‘somewhere’.

Di bagian akhir film ketika Pooh dan Christopher Robin duduk berdua dan bercakap-cakap soal hari, saya menitikkan air mata.

“What day is it?”

“It’s today.”

“Oh, my favorite day.”

Apa lagi yang lebih baik dari hari ini? Pernahkah kamu berpikir bagaimana jika tidak ada hari ini? Tidak akan ada besok. Lewat Christopher Robin, kita diingatkan kembali untuk mengapresiasi dan menjalani hidup hari ini. Bukan kemarin—yang mana adalah masa lalu—bukan besok yang entah akan seperti apa. Setelah menonton film ini, saya bertanya pada diri saya sendiri, apakah saya akan menjalani kehidupan seperti Christopher Robin dewasa sebelum bertemu Pooh, atau saya akan memilih menikmati dan mengapresiasi hari ini untuk hidup lebih bahagia?

*

Data Film

Sutradara: Marc Forster

Skenario: Alex Ross Perry

Pemeran: Edward McGregor, Hayley Atwell, Bronte Carmichael, Mark Gatiss

Pengisi suara: Jim Cummings (Pooh & Tigger), Brad Garrett (Eeyore), Toby Jones (Owl), Nick Mohammed (Piglet), Peter Capaldi (Rabbit), Sophie Okonedo (Kanga), dan Wyatt Dean Hall (Roo)

Rilis: Agustus 2018 (Indonesia)

Genre: Animation, Adventure, Comedy, Drama, Family, Fantasy

IMDb rating: 7.7/10

.

.

maybe you'll like this too

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.