What If We Just Pretend to Love Ourselves After All This Time?

Sejak album baru BTS, Love Yourself: Tear, dirilis dengan title track Fake Love, 18 Mei lalu, saya mendengarkan lagu itu nyaris setiap hari. Selain untuk menambah jumlah stream di Spotify, alasan utamanya adalah karena lagunya yang memang adiktif sekali di telinga saya. Meskipun saya mencak-mencak ketika memainkan lagu itu di Superstar BTS. Ya gila sih, lagu versi full di game harus diulang sampai 15 kali. Mau muntah nggak, tuh.

Anyway, sebenarnya apa kaitannya judul tulisan ini dengan lagu baru BTS? Jika kamu ada di dunia BTS bersama para Army, kamu mungkin sudah tidak asing dengan teori dan analisa lirik. Tapi saya lemah masalah teori ataupun analisa lirik. Tulisan ini hanya pemikiran yang bertengger berhari-hari selama mendengarkan Fake Love.

est. 1993. author. stationary addict. wanderer. half unicorn, half hooman.

Continue Reading

Cara Mudah Bikin Song Cover Ala Penyanyi Pro

Dari kecil, saya punya hobi menyanyi. Ya meskipun itu pada akhirnya cuma jadi hobi semata. Panggung saya paling-paling cuma kamar mandi, paling jauh, ya, panggung di sekolah atau isi acara di mal sebagai perwakilan sekolah. Jangan tanya, pernah nggak pengin ikut audisi Indonesian Idol atau Akademi Fantasi, jelas pernah soalnya. Hampir semua teman saya yang suka nyanyi juga kayaknya pernah deh kepengin ikut audisi. Tapi kalau sekarang, saya kepenginnya ikut audisi YG Ent atau Big Hit aja. Oke, ini mulai ngawur.

Sebagai penyanyi kamar mandi yang setia, kadang-kadang saya pengin dong bikin lagu ala-ala penyanyi pro atau penyanyi Youtube kayak Boyce Avenue, Megan Nicole, Sam Tsui, Madilyn Bailey, Kira Grannis, dan lain-lain. Tapi gimana ya, karena nyanyi cuma bagian dari hiburan dari kepenatan sehari-hari, saya juga nggak pernah mengeluarkan uang lebih untuk microphone, amplifier, sound-card, dan juga aplikasi-apliasi music editing lainnya. Saya cuma punya smartphone dan bermodal lagu-lagu instrumental gratisan di Youtube.

Nah, jadi gimana sih caranya bikin song cover mudah tapi dengan kualitas mendekati penyanyi pro?

est. 1993. author. stationary addict. wanderer. half unicorn, half hooman.

Continue Reading

Obscure Sorrows: Koinophobia

credit: timeasley@unsplash

“You left plenty of room for what might happen, and somehow lost track of what was happening.”

*

Beberapa orang mungkin pernah mempunyai mimpi yang besar, jauh sebelum kita tumbuh dewasa. Jauh sebelum masalah mengenai iuran-iuran bulanan dan pandangan orang lain menjadi sesuatu yang harus dipusingkan nyaris setiap hari. Jauh sebelum pikiran kita dipenuhi dengan hal yang itu-itu saja, yang sebenarnya bukan merupakan standar kehidupan.

I used to have a big dream, and still do. Until I realize, “why am I living in such an ordinary life? I could be better than this.”. Then I forget how to dream again.

est. 1993. author. stationary addict. wanderer. half unicorn, half hooman.

Continue Reading

100% Paperless, Mungkin Nggak Sih?

source: Gabriele Diwald at Unsplash

*

Era digitalisasi dan maraknya program pelestarian lingkungan membuat pemakaian kertas semakin banyak dikurangi. Jika dulu saya masih membaca majalah remaja untuk mencari tahu tren fashion dan info artis kesayangan saya, sekarang saya hanya butuh smartphone, jaringan internet dan Google kemudian, voila! Muncul semua informasi yang saya inginkan, dari yang paling umum sampai yang paling spesifik.

Saya tidak apatis sama sekali terhadap kemajuan teknologi karena saya juga ikut merasakan kemudahannya. Tetapi, kalau disuruh menghilangkan kertas dari keseharian saya, sepertinya saya belum rela. 5 hal ini akan membuat kamu menimbang lagi, mungkinkah kita menjalani 100% paperless?

est. 1993. author. stationary addict. wanderer. half unicorn, half hooman.

Continue Reading

7 Lagu Folk Lokal Favorit

Melabeli diri saya sebagai penikmat musik Korea tidak lantas membuat saya menutup telinga pada musik-musik dalam negeri. Di beberapa waktu, saya pernah merasa sedikit kesulitan dalam menemukan musisi dalam negeri yang punya lagu bagus dengan lirik yang bermakna. Musik Indonesia kala itu mungkin lebih banyak di-bully daripada dinikmati. Akan tetapi beberapa tahun belakangan, mulai bermunculan musisi-musisi yang mengeluarkan album mereka lewat jalur indie dan mengusung genre folk. Lagu-lagu mereka istimewa dan akhirnya lagu-lagu folk lokal itulah yang membuat saya kembali rutin mendengarkan musik dalam negeri.

Nah, hari ini saya akan share tujuh lagu folk lokal favorit saya. Berikut list-nya!

est. 1993. author. stationary addict. wanderer. half unicorn, half hooman.

Continue Reading

[Event] Kumpul Blogger Pekanbaru

Beberapa bulan silam, saya berbincang dengan salah seorang teman untuk mengaktifkan blog dan membuatnya menjadi milik saya sendiri. Niat yang sebenarnya sudah datang sejak lama dan belum pernah terealisasikan hingga beberapa waktu silam. Seiring dengan rencana mengaktifkan diri di dunia blog, saya bergabung di komunitas blogger, Blogger Perempuan dan mencari-cari komunitas blogger yang ada di wilayah Riau.

est. 1993. author. stationary addict. wanderer. half unicorn, half hooman.

Continue Reading