100% Paperless, Mungkin Nggak Sih?

source: Gabriele Diwald at Unsplash

*

Era digitalisasi dan maraknya program pelestarian lingkungan membuat pemakaian kertas semakin banyak dikurangi. Jika dulu saya masih membaca majalah remaja untuk mencari tahu tren fashion dan info artis kesayangan saya, sekarang saya hanya butuh smartphone, jaringan internet dan Google kemudian, voila! Muncul semua informasi yang saya inginkan, dari yang paling umum sampai yang paling spesifik.

Saya tidak apatis sama sekali terhadap kemajuan teknologi karena saya juga ikut merasakan kemudahannya. Tetapi, kalau disuruh menghilangkan kertas dari keseharian saya, sepertinya saya belum rela. 5 hal ini akan membuat kamu menimbang lagi, mungkinkah kita menjalani 100% paperless?

1. Buku Fisik vs. Buku Elektronik

Perdebatan panjang di antara pecinta buku tentang buku fisik dan buku elektronik memang tidak akan pernah ada habisnya. Dua-duanya tentu mempunyai kelebihan dan kekurangan masing-masing. Bagi para bibliophilia—sebutan untuk para pecinta buku—aroma kertas-kertas yang menguar dari buku yang baru dibeli adalah sesuatu yang tidak bisa tergantikan. Bayangkan kalau kamu baca buku elektronik aroma apa yang akan kamu hirup dari perangkat elektronikmu? Berdasarkan survey di U.S, membaca buku elektronik lebih menguras energi dibandingkan membaca buku fisik. Terbukti juga bahwa buku fisik membuat kita  lebih terfokus pada tulisan-tulisan di halaman yang kita balik dan baca. Hal itu juga membuat kita lebih fokus dalam mengingat isi bacaan kita.

Membaca buku elektronik juga ternyata lebih melelahkan mata. Layar smartphone atau Ke-book reader sejenis Kindle akan membuat mata cepat lelah. Lho, kan sekarang ada LCD yang lebih ramah untuk mata? Eits, jangan senang dulu. Tahukah kamu membaca dalam jangka waktu lama lewat layar LCD bisa membuat mata lelah, sakit kepala, dan pandangan kabur. Terlebih lagi, membaca buku teks fisik memudahkan kita untuk menandai halaman dan poin penting yang akan ingin kita ingat, yang tentunya akan sulit dilakukan pada buku elektronik. Jadi, masih rela kalau buku fisikmu diganti buku elektronik semua?

2. Kertas sebagai Substitusi Plastik Pembungkus Makanan

Kamu pasti tahu, kan, kalau plastik sulit didegradasi? Alternatif pengganti plastik untuk pembungkus makanan adalah kertas. Beberapa orang di luar Indonesia memang mulai menerapkan pemakaian alat makan dari wheat, tetapi selain harganya lebih mahal, produk-produk ini belum terlalu populer di Indonesia. Membawa tempat makan sendiri juga merupakan salah satu alternatif untuk mengurangi pemakaian plastik pembungkus. Tapi ternyata, kertas juga populer digunakan untuk menggantikan plastik. Kertas digunakan untuk kemasan susu, sereal, pembungkus nasi di restoran cepat saji kesukaanmu, juga sebagai bahan gelas kertas di kedai kopi kesayangan kamu.

3. Kertas Sebagai Sarana Kreativitas

Kertas menjadi sarana kreativitas yang belum tergantikan hingga saat ini. Ada berbagai barang-barang seni yang terbuat dari kertas. Sebut saja kertas origami, kertas crepe, masking tape, sticky notes, dan masih banyak yang lainnya. Adik kecil kita yang baru saja belajar menulis akan menggunakan kertas untuk menggambar, mereka biasa akan mencoret-coret sesuai dengan keinginannya. Bayangkan jika mereka harus melakukannya di atas layar smartphone dan pada akhirnya menusuk-nusuk layar smartphone kamu dengan Stylus Pen. Tega, nggak? Kalau saya, saya akan memilih memberikannya selembar kertas dan pensil warna untuk mengeksplorasi. Tekstur kertas, tekstur dari guratan-guratan tangannya akan melatih daya sentuh si kecil juga, kan? Biarkan mereka bebas berkreasi dengan mencoret, melipat, merobek, dan meremas kertas.

4. Kertas Sebagai Material Dasar Uang

Lembaran uang yang kita pakai di Indonesia berbahan dasar kertas. Jadi bisa dibayangkan jika tidak ada lagi kertas. Akan berbahan dasar apa kah uang kita? Memang, sekarang ini kita sudah tidak perlu lagi menyimpan banyak uang di dompet. Kamu bisa menggunakan kartu, bahkan aplikasi ini dan itu dengan fasilitas top-up. Tetapi tentunya kamu nggak akan belanja cabe di warung seharga seribu rupiah dengan kartu debit, bukan?

5. Kertas Sebagai Material Dasar Surat-Surat Penting

Kamu tentunya masih punya ijazah SD, SMP, dan SMA yang masih berbentuk rapi dan cantik, kan? Belum lagi akta kelahiran, surat nikah, dan surat-surat penting lainnya? Surat-surat penting sejenis itu merupakan kategori kertas khusus yang dibuat dari material non-kayu sehingga mempunyai ketahanan yang lebih lama. Material non-kayu seperti merang dan rami memang terkenal sebagai bahan dasar pembuatan kertas khusus. Lagi-lagi, saya mengajak kamu membayangkan jika surat-surat penting itu dijadikan versi digital. Memang akan jadi lebih praktis, tetapi itu akan berbanding terbalik dengan bahaya yang harus diwaspadai. Cyber crime seperti hacking dan hijacking bukan lagi merupakan hal yang sulit melihat semakin berkembangnya era digital.

Nah, itu dia 5 hal yang menurut saya membuat paperless era ini nggak bisa 100% paperless. Jadi sebenarnya kenapa ada paperless, sih? Banyak yang beranggapan bahwa pembuatan kertas merupakan salah satu kegiatan yang berkontribusi pada perusakan hutan. Maka konklusi yang didapatkan adalah dengan meminimalisasi penggunaan kertas, kita telah menyelamatkan hutan. Tahukah kamu bahwa itu adalah mitos?

Faktanya, industri kertas malah berkontribusi terhadap pelestarian hutan, guys. Industri kertas pasti punya Hutan Tanaman Industri (HTI), dan memakai bahan baku yang sudah mendapat sertifikasi. Selain itu, industri kertas juga pastinya akan menanam kembali HTI yang mereka tebang. Tenang, nggak akan dibiarkan gundul karena industri kertas pasti kegiatannya dibarengi dengan adanya manajemen kehutanan yang baik.

Salah satunya adalah kertas PaperOne yang diproduksi oleh PT. RAPP di bawah naungan grup perusahaan APRIL. Saya jelas percaya untuk memakai kertas PaperOne karena selain kualitasnya baik, PaperOne juga sudah tersertifikasi PEFC yang berarti tidak perlu diragukan lagi asal-usul bahan bakunya karena PEFC menjamin produk PaperOne berasal dari bahan baku legal dan sustainably managed plantations.

Tulisan ini diikutsertakan dalam Blog Review Competition #worldchallenge8 oleh worldofforestyid

maybe you'll like this too

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.