What If We Just Pretend to Love Ourselves After All This Time?

Sejak album baru BTS, Love Yourself: Tear, dirilis dengan title track Fake Love, 18 Mei lalu, saya mendengarkan lagu itu nyaris setiap hari. Selain untuk menambah jumlah stream di Spotify, alasan utamanya adalah karena lagunya yang memang adiktif sekali di telinga saya. Meskipun saya mencak-mencak ketika memainkan lagu itu di Superstar BTS. Ya gila sih, lagu versi full di game harus diulang sampai 15 kali. Mau muntah nggak, tuh.

Anyway, sebenarnya apa kaitannya judul tulisan ini dengan lagu baru BTS? Jika kamu ada di dunia BTS bersama para Army, kamu mungkin sudah tidak asing dengan teori dan analisa lirik. Tapi saya lemah masalah teori ataupun analisa lirik. Tulisan ini hanya pemikiran yang bertengger berhari-hari selama mendengarkan Fake Love.

credit: Wikipedia

Bagaimana jika kita ternyata hanya berpura-pura mencintai diri kita sendiri? Dalam speech RM di Billboard Music Awards 2017, ketika BTS menang sebagai Top Social Artist, RM mengatakan bahwa kita harus mencintai diri sendiri. Itulah selanjutnya yang menjadi tajuk dari album BTS, Love Yourself. Ditambah juga dengan kampanye Unicef dan BTS yang juga mengusung topik yang sama.

Tahun ini saya memasuki tahapan quarter life crisis. Isi kepala saya dipenuhi dengan banyak hal yang negatif yang sepertinya tidak perlu saya jabarkan satu per satu. Nggak tahu pasti ini karena quarter life crisis atau memang kepala saya saja yang isinya aneh-aneh. Tahun ini, saya punya resolusi untuk lebih mencintai diri sendiri, menerima diri saya sendiri. Saya merasa sudah sedikit melakukannya, tapi bagaimana jika itu sebenarnya hanya kamuflase. Bagaimana jika saya ternyata hanya pura-pura mencintai diri saya sendiri?

“For you, I could pretend like I was happy when I was sad. For you, I could pretend like I was strong when I was hurt. I wish love was perfect as love itself. I wish all my weakness could be hidden.”

Lirik awal dari Fake Love membuat saya bertanya. Seberapa sering kita berpura-pura bahagia? Seberapa sering kita berpura-pura kuat? Saya dan beberapa orang lainnya mungkin sering melakukannya. Kita cenderung menyembunyikan perasaan negatif, menggantinya dengan perasaan positif. Mungkin karena kita tidak ingin terlihat menyedihkan di mata orang, atau sesederhana agar orang-orang tidak mengkhawatirkan kita. Tetapi bukankah berpura-pura bahagia ketika kita bersedih akan menyakiti diri sendiri?

Dalam bagian rap Namjoon di lagu Fake Love, liriknya bertuliskan sebagai berikut.

“I wanna be a good man, just for you. I gave the world, just for you. I changed everything, just for you. But I don’t know me, who are you? …I even became quite unsure of who I was. Try babbling into the mirror, who the heck are you?”

Dalam proses berpura-pura mencintai diri sendiri, mungkin saya memproyeksikan diri saya seperti seseorang yang saya harapkan. Menjadi sosok seperti A, bekerja sebagai B, menjadi begini, punya ini, punya itu, dan masih banyak yang lainnya. Kita belajar menjadi sesuatu yang menurut kita akan menakjubkan jika kita menjadi seperti itu. Hingga pada titik tertentu kita kehilangan diri kita sendiri. Apakah semua hal yang kita coba ubah dari diri kita membuat kita mencintai sosok diri kita? Atau kita hanya berusaha memproyeksikan diri seperti apa yang kita pikir luar biasa, namun sesungguhnya kita baru saja kehilangan diri kita sendiri?

“I grew a flower that can’t be bloomed in a dream that can’t come true.”

Lirik di atas adalah salah satu lirik yang kalimatnya indah dan ngena gitu. Bagi saya, lirik itu menunjukkan sebuah kesia-siaan. Untuk apa kita berusaha membentuk pribadi yang sebenarnya bukan diri kita, berpikir bahwa kita mencintai sosok baru dari dalam diri itu. Bagaimana jika semua yang kita pikir adalah cara kita mencintai diri sendiri ternyata hanya pura-pura? Menjadi ini, menjadi itu tanpa tahu apa yang diinginkan. Dengan itu, apakah kita bisa mencintai diri kita sendiri?

credit: Army’s Amino

Mengubah diri kita—menganggap bahwa hal tersebut adalah cara efektif untuk mencintai diri sendiri—belum tentu bentuk dari self love. Karena sebelum berubah, berkembang kita perlu memulainya dengan hal yang lebih mendasar. Pertama, mengapresiasi diri kita. Be grateful for what you are, and what you are not. Be grateful for every emotion you feel. Menyadari kita bahagia ketika bahagia, menangis ketika kita bersedih. Just accept the emotion you felt, because when you refuse to admit it, it means that you just reject yourself. Dan jika kita sudah menolak diri kita sendiri, siapa yang akan menerima kita dengan baik?

Selanjutnya, accept your past. Hal yang berat. Masa lalu lebih kurang akan menjadi sesuatu yang melatarbelakangi pemikiran masa kini. Saya belum sepenuhnya menerima masa lalu saya. I still blame it sometimes. Bahkan untuk hal-hal luar biasa yang terjadi di masa lalu, kadang pun masih saya sesalkan. Ketika kita memaafkan masa lalu, menyadari bahwa mereka adalah bagian dari kita dan meninggalkannya di belakang, it just feel like all you burden was lifted. Ya, saya sedikit mengerti rasanya. Ada beberapa masa lalu yang sudah saya terima, sebagian lagi masih sibuk mengganggu pikiran saya. At some point, we just have to accept our past, for us to move forward with a lighter step, right?

Selain lagu Fake Love, lagu-lagu lainnya di album ini juga punya makna yang dalam. Akan saya bahas nanti setelah album pesanan saya datang, ya. Buat yang mau baca teori atau analisa lirik BTS, mampir ke BTS Army Indonesia Amino, aja, ya. Banyak di sana. Selamat mencintai diri kamu sendiri!

nb.

Lyrics credit: genius.com

Featured image: Emma GXFC@Army’s Amino

 

Cheers,

 

maybe you'll like this too

2 Comments

  1. Tertarik baca artikel ini pas liat story. In fact, aku pun pernah mengalami masa masa sulit itu. Lumayan lama sampai akhirnya aku bisa menerima diri sendiri.

    Quarter life crisis itu proses yang perlu dinikmati. Emang sih pas ngalaminnyA gak ada nikmat nikmatnya, tapi dari situ aku belajar tentang diri sendiri. Aku belajar menerima diri. Buatku itu semacam proses pendewasaan yang perlu dilewati. Ketika kita pura pura cinta diri sendiri, its okay kok. Wajar. Setidaknya dengan ngefake kita emang ada keinginan ke arah sana. Tapi saat kita sudah maafin diri kita sendiri, aku berani jamin hati bakal lega. Hwaiting! Kita semua melalui proses yang sama, jadi ada temennya kok

    1. Hai, Mbak Mia. Terima kasih sudah mampir ya. Lega bacanya, ternyata aku gak sendirian dan udah ada yang ngalamin ini. Setidaknya aku bisa menikmati quarter life crisis ini dengan sedikit tenang karena pada akhirnya akan kita lewati juga ya. 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.