Of Question and Negativity

*

“Kalau bisa mengubah satu hal dalam hidup, apa yang akan kau ubah?”

“Kenyataan bahwa manusia cenderung memandang sesuatu dari sisi negatif.”

*

Aku tidak berbincang dengan banyak orang, tetapi Jill iya. Semua orang yang pernah kutanyakan hal itu menjawabnya dengan hal lain—sebenarnya aku hanya menanyakannya pada adikku, Jill, dan Shergo, alaskan klee kai milik Jill. Adikku ingin mengubah latar belakang keluarga kami. Shergo mungkin ingin mengubah tempat makannya menjadi lebih besar agar ia bisa makan banyak-banyak. Sementara Jill… Ya, kau sudah mendengar sendiri jawabannya.

“Mengapa manusia terus-terusan memandang sesuatu dari sisi yang negatif padahal mereka sudah tahu itu melelahkan? Ayolah, kau setuju padaku, jika kenyataan tentang itu berubah, bukankah hidup akan jauh lebih ringan?” Jill menjelaskan saat aku mencibir jawabannya—jawaban yang tak masuk akal. Aku tahu jawaban adikku sama tak masuk akalnya, tetapi milik Jill berkali lipat lebih parah.

Aku menenggak jus apel di depanku. Oh iya, aku sedang puasa alkohol. Lambungku bermasalah dan Jill bilang aku bisa mati hanya karena asam lambung dan aku belum mau mati. Setidaknya belum sekarang karena aku masih terlalu muda. Bukan, bukan masalah muda atau tua. Aku hanya belum keliling dunia. Iya, aku ingin keliling dunia. Sementara Jill hanya ingin melihat, mendengar—atau apalah itu namanya—singing bowl di Nepal.

Aku tahu, mimpi-mimpi Jill selalu aneh. Selain pergi ke Nepal demi singing bowl, dia pernah ingin mengunjungi semua danau dengan ubur-ubur yang tidak bisa menyengat di seluruh dunia. Jill menyambar jus apelku. Dia ikut-ikut puasa alkohol. Katanya tidak seru minum sendirian.

“Kau tidak tahu rasanya menjadi negatif hampir setiap saat. Seolah-olah kau hanya terbentuk dari aura negatif. Seluruh hidupmu berisi kenegatifan. Bahkan ketika bangun tidur, aku bisa merasa kosong dan hari itu berubah jadi hari paling negatif,” cerita Jill.

“Aku tidak tahu rasanya menjadi negatif hampir setiap saat.”

“Biar kuceritakan. Pertama, kau akan membenci dirimu. Apa yang kau lakukan akan selalu kau anggap salah. Aku pernah merasakannya. Kau belum pernah berpikir tentang bagaimana dirimu bermakna di mata orang lain, bukan? Tunggu sampai kau merasakan kalau apa yang kau lakukan selama ini rasanya sia-sia. Apa yang kau bisa? Apa yang bisa kau lakukan untuk orang lain? Apa nilai yang ada pada dirimu? Kau tidak tahu. Semakin lama kau memikirkannya, kau akan semakin tersedot ke dalam lubang yang tidak ada dasarnya. Gelap. Kosong.”

“Sial, mendengarmu bercerita saja sudah membuatku sesak.”

“Begitulah…”

“Padahal kau punya begitu banyak mimpi.” Aku tersenyum sambil memandang Jill. Aku tidak sedang memuji atau terpesona padanya. Tapi Jill memang seorang gadis dengan banyak mimpi dan itu yang kusuka darinya.

“Punya banyak mimpi tidak membuatku bertahan hidup,” sahutnya.

“Punya banyak mimpi membuatmu tetap hidup, Jill.”

“Makanya kubilang, kalau aku bisa mengubah satu hal saja dalam hidup, aku ingin mengubah kenyataan bahwa manusia tidak hanya memandang semua hal dari sisi negatif. Kedengarannya mungkin mulia, tapi tidak, Lou. Itu keinginan paling egois.”

Setelah memandangnya, aku tahu maksud keinginan paling egois yang dikatakan Jill. Dia tersenyum sambil menundukkan kepala. Kurasa kata-kata Jill benar. Akan lebih menyenangkan jika manusia memandang sesuatu dari sisi positif. Jika itu terjadi, gadis di sampingku itu tidak akan tiba-tiba menjadi kacau begini, bukan?

“Bukankah ini lucu, Lou? Bahkan di saat aku mencoba menjadi positif saja, yang keluar malah pemikiranku yang negatif lagi.” []

pic credit: unsplash

.

.

maybe you'll like this too

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.