[Review & Giveaway] Blogtour Drama Mama Papa Muda

“…pernikahan dan rumah tangga adalah kerja sama. Kerja sama untuk sama-sama bahagia. Kita bertiga itu satu tim, dalam rangka menyelesaikan misi seumur hidup untuk menjadi keluarga utuh dan mesra selamanya. Kalau akhirnya Ibu terpaksa mengikat kakinya pada rumah tangga ini, tanpa bisa melakoni cara-cara bahagia yang dia suka, Bapak akan merasa gagal menjadi pemimpin tim.”–Topan Pramukti, hlm. 83

*

Tentang Buku

Judul: Drama Mama Papa Muda

Penulis: Pungky Prayitno dan Topan Pramukti

Editor: Ayun

Tata Sampul: Amalina Asrari

Penerbit: Laksana

Tebal: 232 halaman

 

Menikah muda mungkin sebelumnya tidak ada di benak Mbak Pungky, sebelum akhirnya bertemu dengan Mas Topan dan mengalami kisah yang menjadi babak baru dalam hidupnya. Babak baru itu dituturkan Mbak Pungky di bagian satu buku ini; Drama Mama Muda.

“Saya dulu mimpi banget setelah lulus kuliah bisa keliling dunia pakai uang sendiri. Saya jadi penulis, tapi nulisnya di kafe-kafe gitu, di luar negeri.” – Pungky Prayitno, hlm. 19

Tapi apa daya, prinsip tidak ingin menikah muda harus dikubur oleh Mbak Pungky. Akan tetapi, menikah di usia muda itu ternyata tidak berarti Mbak Pungky harus mengubur juga semua impiannya. Dalam “Menikah Muda Tak Pernah Merampas Apa pun dari Saya”, Mbak Pungky membuktikan bahwa setelah menikah, ia masih bisa mencapai mimpi-mimpinya.

Di bagian satu, Mbak Pungky juga banyak bercerita tentang postpartum depression (PPD). Sebelum membaca buku ini, saya sama sekali tidak tahu tentang sindrom pasca melahirkan semacam itu. Saya hanya tahu melahirkan itu sakit dan mengurus anak itu repot. Butuh kesabaran dan dukungan dari keluarga untuk bisa menghadapi PPD. Beruntung Mbak Pungky bertemu dengan banyak teman-teman yang juga mengalami hal yang sama, yang akhirnya menjadi salah satu sumber dukungannya.

Perjuangan melawan PPD tersebut tentunya dilengkapi dengan dukungan dari sang suami, Mas Topan Pramukti. Di bagian dua; Drama Papa Muda, Mas Topan bercerita bagaimana pengalamannya menghadapi PPD yang dialami Mbak Pungky. Sungguh, bagian ini wajib dibaca oleh para calon bapak yang mungkin saja suatu hari nanti dihadapi dengan sesuatu yang sama seperti Mas Topan.

Pada “Sini Nak, Sama Bapak”, Mas Topan berbicara pada Jiwo mengenai perasaannya menanggapi omongan orang-orang tentang suami yang membiarkan istrinya pergi. Mas Topan membuka mata saya—dan mungkin juga pembaca lain—bahwa seorang bapak juga membutuhkan waktu berdua dengan anaknya, juga dapat diandalkan untuk mengurus anaknya seorang diri. Mengapa masyarakat harus menganggap momok ini sebagai sesuatu yang seakan ‘berbahaya’ dengan komentar “…tega ninggalin anak di rumah cuma sama bapaknya”.

Ah, membaca bagian dua ini sebenarnya berat, saya seolah sedang mendengarkan bapak saya bicara kepada saya.

Jadi, drama di buku ini berlanjut di bagian tiga; Drama Tumbuh Kembang. Dari perihal penyapihan, sekolah Jiwo, sampai soal PMS yang selalu jadi monster setiap bulan untuk Mas Topan. Di bagian ini dunia lain dari pernikahan banyak dibahas. Bahwa menikah pada akhirnya bukan hanya perihal berdua, apalagi ketika si buah hati hadir.

Voila! Selamat menambah drama-drama pada kehidupan.

Beberapa kisah di bagian empat; Drama Dua Hati, terasa sangat hangat dan emosional. Di bagian ini, selain kisah-kisah lain seperti tentang indahnya menikah, tentang perselingkuhan, tentang urusan rumah tangga di media sosial, juga tentang mantan. Pemikiran-pemikiran Mbak Pungky dan Mas Topan tertuang di bagian ini.

 

Giveaway

Sekitar sebulan lalu, saya ditawari untuk menjadi host untuk blog tour Drama Mama Papa Muda ini oleh Mbak Tiwi. Saya sempat kaget. Lho, saya? Ini buku parenting lho dan saya belum pernah membaca satu pun buku parenting. Tapi Mbak Tiwi bilang, bukunya bagus, jadi saya ambil tawarannya. Dan buku ini ternyata berhasil membuat saya goyah, nikah muda atau tidak ya? Tapi sama seperti Mbak Tiwi, saya juga tidak mungkin lagi kembali ke usia 22. Hehehe.

Saya yang sempat berpikir beberapa kali sebelum membaca buku parenting, eh ternyata malah suka sama buku ini. Bukunya bagus dan sama sekali tidak membosankan. Kamu yang baru nikah, yang mau nikah, atau yang belum mau nikah, semua harus baca buku ini. Makanya, saya mau bagi-bagi satu buku gratis buat kamu. Mau? Berikut syarat dan ketentuannya, ya.

  1. Domisili di Indonesia
  2. Follow Twitter @divapress01, IG @penerbitdivapress, dan like FB Penerbit Diva Press, juga Twitter @dhamalashobita
  3. Bagikan tautan giveaway ini di media sosial. Mau mention saya dan penerbitnya atau tidak, bebas
  4. Tulis nama, akun Twitter/IG, dan domisilimu di kolom komentar, diikuti jawabanmu untuk pertanyaan berikut:

Dalam buku ini, ada tulisan berjudul “Anak yang Hidup di Mana Saja”. Jika kamu menjadi orangtua kelak, apakah kamu akan memperbolehkan anakmu bermain apa pun dan di mana pun (misalnya, berkotor-kotoran dan basah-basahan) atau tidak? Jangan lupa sertakan alasannya, ya.

 

Periode giveaway ini dibuka selama satu minggu, dari 12 Maret sampai 18 Maret 2018. Pengumuman akan diberikan di sini selambat-lambatnya 20 Maret 2018.

Nah, tidak susah, kan? Selamat mencoba dan semoga beruntung, ya.

[ UPDATE ]

Setelah membaca-baca jawaban teman-teman, wah semuanya punya pendapat dan jawaban yang luar biasa sekali. Saya sampai kebingungan memilih pemenangnya. Tapi saya harus tetap memilih, kan?

Dan pemenangnya adalah….. /drumrolls

Nur Amelia (@ameru_no_egao)

Yeay, selamat untuk Nur Amelia, kamu dapat satu buku Drama Mama Papa Muda. Semoga bukunya bermanfaat dan selamat membaca!

Untuk yang belum menang kalian bisa berkunjung ke rumah-rumah lainnya yang lagi bagi-bagi gratisan. Minggu ini, ada di afriantipratiwi.com lho! Yuk, coba lagi. 

Terima kasih untuk semua yang sudah ikutan! 😊

maybe you'll like this too

14 Comments

  1. Nama : Muliyani Pily
    Ig/twitter: pilymuliyani/pily08
    Domisili: medan

    Anak yang hidup dimana saja
    Menurut saya, itu harus d terapkan pada anak. Bukan pada saat dia lahir, tapi pada saat dia hadir dan mulai berkembang di rahim. Karena itu merupakan tntg kebiasaan, agar ia terbiasa. Jika memang nnti suatu saat hidupny berat ia sudah tidak canggung dgn itu. Jd saya semasa hamil pernah berfikir begini, walaupun sgt merasa kepanasan pd saat hamil besar, saya selalu mengusahakn utk tidak menghidupkan kipas angin karena saya merasa bhwa kndisi yg nyaman akan d terima oleh siapa aja, sdangkan kndisi yg tidak nyaman pasti hnya org yg hebat yg mampu lewat dan mnghdpi itu.
    Terima kasih

  2. Nama: Nur Amelia | Twitter: @ameru_no_egao | IG: @nurameliasari89 | Domisili: Indramayu

    Hai Kak, belum menyerah ikutan givraway Buku Drama Mama Papa Baru, karena aseli buku ini menarik sekali.
    Perkenalkan saya Amel, baru punya anak satu usia 20 bulan.
    Mengenai pertanyaan “Apakah saya (akan) memperbolehkan anak saya bermain apa saja dan dimana saja, termasuk kotor-kotoran dan basah-basahan?”

    Kalau saya dan suami memperbolehkan anak saya bermain apa saja, tapi ada terms & conditions yang berlaku, yaitu:
    1. Anak dalam keadaan sehat. Kalau lagi sakit, ya main di dalam rumah dulu aja..
    2. Bermain sesuai usianya. Kalau bayi, mending jangan main tanah-tanahan dulu, soalnya bayi masih tahap perkembangan oral jadi semua benda dimasukkin ke mulut.
    3. Diawasi. Saya biarkan anak saya bermain di halaman, tanpa alas kaki, karena itu bagus buat indera peraba (sensory) di kakinya. Tapi pastikan tidak ada paku atau barang berbahaya lainnya.
    4. Setelah bermain, bersihkan diri anak dan juga saya, berupa cuci tangan-kaki atau bahkan mandi kalau emang kotor sebaju-baju, misal saat menyiram tanaman. Anak saya kadang suka menyiramkan air ke tubuhnya, padahal itu air tadahan hujan atau AC yang digunakan buat nyiram tanaman. hahaha.. puyeng tapi dibawa enjoy ajalah.. T.T

    Btw, kalau habis aktivitas outdoor gitu, makannya jadi banyak.. hihihi.. bunda senang jadinya.. ^^

  3. Ade Delina Putri
    Twitter/Ig: @adedelinaputri
    Surabaya

    Aku membolehkan anakku main dimana saja, karena itu akan melatih sensori dan motoriknya dengan bagus. ASALKAN tetap dalam pengawasan orang tuanya atau orang dewasa terdekatnya. Aku tidak membebaskan anakku main di luar sendiri. Secara zaman sekarang khawatir karena banyak penculikkan anak. Dan kalau diawasi, juga akan lebih cepat tanggap kalau ada sesuatu yang membahayakan.

    Aku juga lihat kondisi anakku, apakah memungkinkan untuk dia main di luar. Kalau kondisinya sehat, ya bebas main di mana saja. Kalau sakit apalagi sakitnya karena virus atau bakteri, ya nggak kubolehkan.

  4. Nama : Melati Ismaila Rafi’i
    IG/Twitter : @ismailaraa
    Domisili : Yogyakarta

    Saya masih seorang mahasiswi yang belum pernah terjun ke dunia parenting. Akan tetapi pengalaman hidup dari orang-orang sekitar sedikit banyak memberikan saya pemahaman.
    Jika kelak saya mempunyai anak, saya akan membebaskannya bermain dimana saja. Dengan bermain secara bebas, dia akan menemukan diri dan dunianya. Dia akan belajar banyak hal dari alam, dari kesalahan yang dia lakukan, jatuh misalnya. Tentu saja juga termasuk bermain kotor dan basah-basahan. Dia akan mengerti kalau suatu saat saya melarangnya bermain basah-basahan, karena dia pernah mengalaminya. Jika kita melarang sesuatu tanpa dia tau konsekuensinya, maka suatu saat masih mungkin dia melakukan hal itu tanpa sepengetahuan orang tuanya.
    Namun, arti kebebasan ini juga bukan berarti bebas begitu saja. Pengawasan tentu juga penting dilakukan. Selain untuk menjamin keamanan, kita juga akan lebih memahami karakter anak kita.
    Oleh karenanya, saya sangat penasaran dengan buku “Drama Mama Papa Muda” yang pastinya akan membuka mata saya yang belum menikah ini tentang berbagai pengalaman menjadi istri dan orangtua.
    Terimakasih 🙂

  5. Nama : Rigita Cahyani
    Twitter : @Rigita2110
    Domisili : Surakarta

    Kalo nanti aku udah nikah dan punya anak, aku akan berusaha sebaik mungkin untuk tidak membatasi anakku selama itu adalah hal yang baik. Biarkan si kecil menumbuhkan kreativitas dan rasa ingin tahu yang besar sejak kecil untuk masa depannya nanti. Namun, itu juga perlu kontrol dan pengawasan dari orang tua serta kondisi anak. Dia bebas bermain asal saya ada bersamanya dan kondisi anak sedang fit

  6. Nama : Hamdatun Nupus
    Domisili : Depok, Jawabarat
    Akun Twitter : @HamdatunNupus
    Link Share : https://twitter.com/HamdatunNupus/status/973868795633664000
    Jawaban :

    Aku memiliki 3 orang keponakan yang usianya nyaris sebaya (4th, 5th & 6th) dua laki-laki dan satu perempuan yang ketiganya tentu memiliki karakteristik & sifat yang berbeda antara satu dengan yang lainnya. Apalagi mereka juga terlahir dari orangtua yang berbeda, sehingga lingkungan tumbuh kembang mereka pun berbeda.

    Dari pengalaman itu aku pun tidak bisa memperlakukan mereka secara sama. Mengenai kebebasan kegiatan, aku cenderung yang agak sedikit membatasi untuk yang satu dan memberikan keleluasaan untuk yang satunya lagi. Karena perbedaan-perbedaan tersebut.

    Dan jika aku menjadi orang tua nanti, sebelum membebaskan mereka untuk melakukan apapun atau pergi kemanapun. Aku harus memastikan lingkungan yang mereka diami memang lingkungan yang baik untuk tumbuh kembang mereka dan memastikan turut serta mendampingi mereka. Karena sebagai orangtua tentu nantinya aku harus mengarahkan anak-anak ku sesuai dengan potensi yang mereka miliki. Dan cara untuk mengetahui potensi tersebut ya dengan melibatkan mereka dengan beragam kegiatan positif.

  7. Nama : Dinan Wiyantika
    Twitter : @dinan_wiyantika
    Domisili : Sleman,DIY

    Jawaban : Kelak aku akan memberikan kebebasan pada anak-anakku untuk bermain apapun dan di mana pun. Karena itu akan memberikan kesempatan mereka untuk belajar, berekspresi dan berinteraksi dengan lingkungan. Namun dengan catatan setiap apapun yang mereka lakukan masih dalam batas yang wajar dan dalam pengawasan orang tua.

  8. Nama : Riza Putri Cahyani
    Twitter : @Zhaa_Riza23
    Domisili : Bogor
    Jawaban : Kalau aku menjadi orangtua suatu saat nanti aku akan membebaskan anakku bermain dimana saja. Alasannya karena orangtuaku dulu memberikan aku kebebasan itu dan aku merasakan manfaatnya sekarang. Aku tumbuh menjadi anak berani, tidak takut menghadapi hal baru, dan mudah beradaptasi. Contoh kecilnya adalah aku dibebaskan bermain hujan-hujanan. Sekarang aku tidak memandang hujan sebagai masalah tapi itu sebuah rahmat. Aku tidak pernah takut sakit saat main hujan karena memang hujan tidak menyebabkan sakit. Orangtuaku dulu tdk pernah memarahi aku saat aku pulang dari sawah dengan baju penuh lumpur. Mereka justru bertanya apa yang aku lakukan? Dan kalimat yang paling aku ingat adalah, “kayaknya seru banget tadi kakak mainnya dari ujung rambut sampai ujung kaki lumpur semua, seneng ya nak? Tapi jangan rusakkin padi orang ya kan kasian bapaknya capek rawat padinya nanti kita gak bisa makan kalau gk ada beras”. Karena aku merasakan bahwa seorang anak itu membutuhkan sarana eksplorasi untuk tumbuh kembangnya. Seorang anak mengharapkan kebebasan itu bukan untuk dilarang-larang melakukan suatu hal. Tapi sebagai orangtua aku ingin lebih mengarahkan bukan melarang, seperti yang dilakukan orangtuaku. Aku ingin anakku tumbuh menjadi seorang anak yang menghargai suatu hal sekecil apapun itu. Dengan bermain di luar, aku ingin ia menjadi banyak bertanya dan banyak tahu sehingga pengetahuannya luas.

  9. Nama : Widya Arum Crystiari
    Twitter : @WidyaArumC
    Domisi : Pare-Kediri-Jawa Timur

    Perkenalkan kak, saya Widya. Jika saya menjadi orang tua, saya justru akan mengajak anak-anak saya untuk mengeksplor dunia luar seperti mengajari mereka tentang indahnya mencintai alam contoh kecil mengajak mereka menanam tumbuhan dsb. Pengawasan/kontrol terhadap anak itu memang penting namun bukan berarti harus melarang setiap hal yang mereka kerjakan. Saya perbolehkan selama masih pada takaran aman artinya tidak membahayakan keselamatannya.

  10. Nama : Samuel Edward

    Akun Twitter : @SammyAddward

    Akun Instagram : @sammyaddward

    Domisili : Bandung

    Jawaban : Tentu saja saya akan memperbolehkan anak-anak saya bermain apapun & di manapun, bahkan dengan siapapun.
    Karena, setiap orang diwajibkan Tuhan untuk menjadi pemimpin alam & seluruh ciptaan-Nya. Bagaimana seseorang dapat menjadi pemimpin yang mumpuni jika dia banyak tidak tahu & mengenal apa yang ia akan pimpin?
    Karena itu, saya mendorong & bahkan mengharuskan anak-anak saya mengetahui & mengenal sekomprehensif & seholistik mungkin sebanyak mungkin hal di dunia ini. Dan itu dengan cara memotivasinya agar mau bermain apapun di manapun & dengan siapapun.
    Tentu saja, saya & isteri saya akan mengawasi secara amat ketat & melekat. Sebab, kami berdua punya kewajiban bukan saja untuk melindungi anak-anak kami, tetapi juga untuk membimbing mereka supaya mereka tidak salah informasi, dan agar mereka mengetahui kebenaran yang sesungguhnya tentang apapun & siapapun yang mereka temui.

  11. Nama: Lenny
    Akun Twitter: @justlynn23
    Domisili: Tapin

    Dalam buku ini, ada tulisan berjudul “Anak yang Hidup di Mana Saja”. Jika kamu menjadi orangtua kelak, apakah kamu akan memperbolehkan anakmu bermain apa pun dan di mana pun (misalnya, berkotor-kotoran dan basah-basahan) atau tidak? Jangan lupa sertakan alasannya, ya.

    Jawaban: Sangat memperbolehkan. Karena lebih baik anakku bermain berkotor-kotoran dan berbasah-basahan daripada bermain gadget saja. Aku miris sekali lihat anak dibawah umur bermain gadget. Padahalkan bermain dengan alam itu akan lebih baik untuk anak, lebih menyenangkan, anak lebih peduli lingkungan sekitarnya, dan akan membuat anak lebih kreatif. Jadi aku akan sangat memperbolehkan anakku untuk bermain apa pun dan dimana pun. Aku akan membebaskannya selama itu baik untuknya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.