Obscure Sorrows : Kudoclasm

credit pic : here

“Siapa yang tahu apakah aku akan hidup di tempat yang paling rendah di bumi atau berkuasa di langit tertinggi, atau bahkan aku harusnya berada di tengah-tengah. Tidak terlalu tinggi untuk bermimpi, tidak terlalu rendah untuk larut dalam gelapnya kenyataan.”

Continue Reading

Yang Tersimpan, Yang Terindah

image

doc. Pri Wahyu via Instagram

Yang Tersimpan, Yang Terindah

a short story by dhamalashobita

Malam di luar pekat. Dan siapa sangka dari jutaan gambar yang diambilnya, milikku ada di tengah. Kau tentu tahu tengah, bukan? Pusat. Seperti matahari sebagai pusat tata surya. Dikelilingi ribuan bintang dan planet. Dan di antara pekatnya malam yang diterangi pendar dari bola lampu yang menyala remang-remang, wajahku dengan lipstik merah pekat terlihat berwarna, di antara puluhan foto hitam putih.

*

Continue Reading

Powdery Snow (Konayuki)

Powdery Snow (Konayuki)

by dhamalashobita

*

“In the season when powdery snow falls, we always lose each other. Even if we see the same sky lost in the crowd, even if we both freeze alike in the cold wind.” – Remioromen’s Konayuki

Continue Reading

Come Home

Rural cedar wood home in spring reflected in lake with blooming spring dogwood and wildflowers
Rural cedar wood home in spring reflected in lake with blooming spring dogwood and wildflowers (gbi.photoshelter.com)

Come Home

by dhamalashobita

Lagu itu tidak pernah sesyahdu lagu-lagu balada lainnya. Tidak ada suara orkestra ramai yang melatarbelakangi nada-nada berlirik tersebut. Suara tuts-tuts piano adalah satu-satunya yang terdengar di belakang suara Ryan Tedder di awal lagu. Itu pun hanya berupa chord yang dibunyikan bergantian. Bukan melodi-melodi balada romantik kontemporer seperti milik Yiruma.

Tapi, selalu ada yang bisa membawaku ke dalam dunia lain dari lagu itu. Dunia yang diam-diam sedang kuciptakan sendiri dalam imajinasiku.

*

Continue Reading

How Does It Feel?

urlHow Does It Feel?

by dhamalashobita

*

Pertama kali aku melihatnya menangis adalah saat pemakaman ibunya enam belas tahun lalu. Ditemani aroma tanah basah karena hujan satu malam sebelumnya, juga aroma embun yang menempel di dedaunan. Hari itu, hingga senja tiba, dia tak kunjung bangkit dari hadapan nisan ibunya. Yang dilakukannya hanya membuang air matanya sia-sia.

Sejak itu, dia mungkin lupa bagaimana caranya meneteskan air mata.

*

Continue Reading

Jill's 4 a.m. Thought

source : wordbypicture.com

Jill’s 4 a.m. Thought

by dhamalashobita

*

Angin malam yang berhembus tanpa suara, kaleng bir kedua yang nyaris kosong, Converse merah yang talinya terjuntai acak, serta pikiran-pikiran pukul empat pagi.

Continue Reading