Powdery Snow (Konayuki)

Powdery Snow (Konayuki)

by dhamalashobita

*

“In the season when powdery snow falls, we always lose each other. Even if we see the same sky lost in the crowd, even if we both freeze alike in the cold wind.” – Remioromen’s Konayuki

Salju-salju halus mulai berjatuhan, persis seperti apa yang selalu dinantikan beberapa tahun belakangan. Kaoru Mio mengeratkan mantel bulu berwarna cokelat yang dikenakannya. Menatap rintikan salju halus dengan tatapan mata kosong. Bibirnya membentuk busur, entah tersenyum pada siapa, kelihatannya pun tidak begitu ikhlas.

Di sepanjang Kanal Otaru, lentera-lentera terletak di tanah, bersama dengan pahatan-pahatan dari salju berukuran kecil yang berjajar acak di sepanjang kanal, terus hingga memadati area Temiyasen Kaijo. Semua orang tersenyum, beberapa anak kecil yang bahkan giginya saling mengerat saking dinginnya pun masih bisa tersenyum, dengan dua tangan berada pada genggaman ayah dan ibunya. Bahagia.

Mungkin malam itu, di antara ratusan orang yang tersenyum bahagia, Kaoru Mio adalah salah satu orang yang mencari-cari kebahagian di tengah pikuk Festival Otaru dan gagal.

Mio tahu, ada satu orang lagi yang tepat merasakan apa yang dirasakannya. Berdirilah seorang laki-laki tak jauh dari Mio, di antara lentera-lentera yang memantulkan sinar-sinarnya pada wajah laki-laki tersebut hingga nampak berseri. Mio tersenyum. Laki-laki di depannya, balas tersenyum. Keduanya saling melempar senyum dengan beban terselip dalam senyuman mereka.

“Aku mungkin belum bisa mengenalmu dengan baik, Mio.”

Mio tahu, ini bukan sepenuhnya salah Jiro. Nishikawa Jiro hanya seorang laki-laki bodoh, yang selalu rela menerima amukan Mio tanpa pernah tahu apa yang membuat gadisnya melakukan hal itu. Jiro adalah seorang laki-laki bodoh, yang selalu mengabulkan keinginan Mio, bahkan menerima saja ketika Mio memarahinya tanpa sebab.

“Sebenarnya, jika kita hanya berpura-pura merasa nyaman dengan ini semua, jalani saja sebagaimana adanya. Tapi ketika kamu yakin bahwa ini tidak akan berhasil, sebaiknya kita harus melepaskan. Yang penting adalah menjadi diri sendiri, Mio. Dengan itu, kebahagiaan maupun kesulitan akan sama-sama membuatmu merasa nyaman.”

*

Malam semakin lama semakin naik. Kanal-kanal Otaru mulai dipenuhi oleh anak-anak muda hingga orang tua. Yang tidak berubah adalah posisi Mio dan Jiro. Dihalang hilir mudik masyarakat Hokkaido sendiri, maupun pendatang yang sengaja datang untuk festival.

Ketika suara tidak lagi perlu didengar tetapi mampu terbaca lewat bibir, maka jarak keduanya—Mio dan Jiro—tidak akan berpengaruh banyak.

“Sudah ya?”

Jiro menatap Mio lekat, menganggukkan kepalanya pelan.

“Haruskah seperti ini?”

Mereka bicara. Dalam hati, disampaikan lewat tatapan mata yang sesekali terputus.

Rambut Mio mulai dipenuhi butiran-butiran salju. Manik mereka sama pasifnya, melewati orang-orang yang menghalangi keduanya. Sudut mata Mio mulai basah, air mata merembes sedikit demi sedikit untuk jatuh melewati pipi.

“Maafkan aku.” Mio berkata dengan suara keras, tak peduli meskipun orang-orang di sekeliling menatapnya aneh.

Dan jawaban Jiro tetaplah hanya berupa senyum. Bahagia mana yang sebenarnya Jiro sembunyikan? Yang berhasil membuatnya merasa tidak bahagia sementara dia terus berhasil untuk tersenyum.

Jiro tidak lagi bicara. Terlalu ramai untuk berteriak, terlalu jauh hanya untuk berbisik. Maka dari tasnya, Jiro mengeluarkan secarik kertas kecil yang sudah terisi setengah penuh kemudian menyeret langkahnya pelan ke arah Mio yang masih mematung. Dari jarak dekat, jelas-jelas lelehan air mata terlihat jelas di kedua pipi Mio yang memucat saking dinginnya. Isakannya tertelan hiruk pikuk festival.

Seperti biasa, penyesalan selalu datang belakangan. Jika bertemu Jiro adalah keberuntungan, maka kehilangan Jiro adalah penyesalan. Tanpa bicara, Mio hanya merasakan kecupan hangat Jiro di keningnya sebelum akhirnya laki-lakinya itu berbalik pergi, menghilang di antara kerumunan, hanya menyisakan secuil hangat di kening Mio. Ah, tak lupa secarik kertas kecil agar Mio tahu apa yang ingin Jiro katakan kepadanya sedari tadi.

Aku ingin melindungimu selamanya. Nanti, jika kamu merasa kita sudah mengerti satu sama lain, ayo kembali dan jalani semua sebaik-baiknya. Nanti, kita akan melepas semua rasa kesunyian kita dan melepaskannya ke langit, tapi dengan syarat, hanya ketika kita sudah benar-benar mengerti satu sama lain. Aku menunggumu.

– Nishikawa Jiro

 

fin.

Notes :

Efek lagu Konayuki pukul dua pagi. Recommended song : Remioromen’s Konayuki.

Lyric credit : lyrictranslate

Picture credit : Patricia Soon

est. 1993. author. stationary addict. wanderer. half unicorn, half hooman.

You may also like

6 Comments

  1. Idk why but my heart cleanched :'(:'(:'(
    Apalagi sambil dengerin lagunya duh ah jd baper hih
    C’est tellement belle que j’ai aucun mot, terlalu cantik sampai bikin speecless..
    Ah memang karya yg indah seringkali hasil ngegalau..
    Si mei ngomong apa sih..
    Hhaha
    Makasih ka <3

    1. Hasil ngegalau memang biasanya nyes gitu, mei..
      Ah, Mei, kamu bisa ajaa.. ini masih banyak kurangnya, kok. Aku masih belajar.. huhuhu
      Tapi makasih ya mei udah mampir.. baru sadar ada komen mei pas utak-atik ini hehhee

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *