Selesai

Maybe it’s still there, the will to say “Oh, this is not how my story will end.”

[warning for some suicidal languages]

*

Bagaimana cara mati yang paling mudah dan menyenangkan?

Aku berkeliling menanyakannya pada orang-orang, bukannya menjawab, mereka malah sibuk mencibir. Atau minimal ada lah yang menatapku dari kaki sampai kepala. Bocah gendeng, katanya.

Tukang kebun di halaman kantorku bilang pergi saja ke jembatan penyeberangan, waktu jalan sedang ramai-ramainya tapi tidak macet, loncat saja seperti lagi bungee jumping. Aku heran bagaimana bapak itu tahu bungee jumping, mungkin melihatnya di televisi atau membaca di koran. Aku suka bungee jumping, tapi kalau hanya dari jembatan penyeberangan sakitnya pasti lebih terasa. Harusnya langsung dari Burj Khalifa, sampai di bawah tubuhku mungkin remuk, tapi tidak terasa sakitnya. Jantungku mungkin berhenti sebelum sampai ke bawah. Apalagi menyadari bahwa aku takut ketinggian. Naik bianglala di Dufan saja aku sudah gemetar.

Aku lanjut berjalan sampai bertemu dengan tukang lotek di depan kantorku. Sambil menggerus kacang dan cabe, dia bilang beli saja racun, atau minimal tenggak saja obat nyamuk botolan yang biasa kusemprotkan di kamar setiap malam. Aku menggeleng. Nanti sehabis menelan racun atau obat nyamuk, mulutku berbusa dan mayatku tidak cantik lagi, bagaimana?

Ada tukang parkir berseragam oranye, bersembunyi di balik dinding toko dan keluar ketika kendaraan akan keluar dari emperan toko-toko. Aku bertanya tentang hal yang sama. Katanya, ambil saja pistol lalu arahkan ke kepala. Jedor! Mati. Sederhana. Tapi aku tidak suka suara pistol, atau mercon, atau kembang api, atau apa pun yang membuatku tiba-tiba meloncat kaget. Lucu juga membayangkan bagaimana aku kaget dulu sebelum kesakitan karena peluru yang menembus otakku.

Aku berhenti di persimpangan jalan. Lampu lalu lintas berganti dari merah, kuning, hijau, kembali lagi ke merah. Dan aku masih belum bisa menentukan cara mati mana yang paling indah dan tidak menyakitkan.

Ada seorang polisi berkumis lebat yang membawa perutnya yang sudah serupa drum. Sempat kupikir dia sedang bersiap untuk pertunjukan marching band. Ternyata bukan. Katanya, ada banyak kasus orang menyilet pergelangan tangannya sendiri. Sebagian di kamar, sebagian di kamar mandi. Air dari bak yang tumpah kemudian menyapu darah yang menetes. Membayangkannya saja sudah sakit. Aku sama sekali tidak yakin melakukannya.

Gantung diri bagaimana, tanya seorang tukang ojek yang sedang menanti penumpang di ujung sebuah gang. Ada tukang ojek lainnya yang mengiyakan jawaban si tukang ojek satu atas pertanyaanku. Aku bilang, kasihan orang yang menemukanku nanti. Membayangkan aku tergantung dengan muka membiru sambil menjulurkan lidah membuatku takut sendiri.

Sore hari setelah pulang kerja, aku singgah di kolam renang. Hari itu jadwalku berenang meski aku tidak bisa berenang. Jadi apa yang aku lakukan di kolam renang, tanya anak muda yang bertugas membersihkan kotoran yang mengambang di kolam renang. Aku celup-celup kaki, membasahi rambut dan jalan-jalan di kolam renang. Meskipun kadang aku meluncur dari satu sisi kolam ke sisi lainnya. Ya, hanya meluncur. Lantas ketika aku bertanya padanya tentang pertanyaanku pagi tadi, dia bilang aku hanya perlu lompat ke kolam dalam, tenggelam. Tapi bagaimana kalau mayatku nanti jadi biru, membengkak dan tak cantik lagi?

Menyerah, aku pulang tanpa membawa jawaban. Pertanyaan macam apa yang tidak menghasilkan jawaban meskipun seharian itu aku sudah menanyakannya ke mana-mana. Aku tiba di kamar. Rambutku masih basah dan tampak seperti mi telur yang baru direbus. Keriting dan jelek. Mana tidak bisa dimakan, lebih buruk daripada mi telur. Jarum jam dindingku menunjukkan pukul dua belas, entah iya entah tidak. Tapi aku akan bertanya pada orang terakhir yang kutemui. Di cermin itu orangnya, dengan wajah menyedihkan yang tidak bisa diselamatkan.

“Kau tahu cara mati yang paling menyenangkan?”

Ia menggeleng kemudian tersenyum.

“Kau tahu, hidup saja sudah susah, mengakhirinya juga mana ada yang mudah.”

[]

.

.

Photo by Stefano Pollio on Unsplash

maybe you'll like this too

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.