[Review] I Have Lost My Way; Kesedihan Itu Bernama Kehilangan

They lost their way but found each other.

Freya has lost her voice while recording her debut album, the one that’s supposed to propel her to stardom.
Harun has lost the love of his life. Now he’s decided to run rather than confront the truth.
Nathaniel has lost everything. He’s alone in New York City with a desperate plan and nothing left to lose.

When a fateful accident draws these three strangers together, their secrets start to unravel and they begin to understand that the way out of their own loss might just lie in helping the others out of theirs.

*

Ketiga tokoh utama novel ini bertemu di Central Park, New York. Ketika mereka bertemu, ketiganya tengah merasakan kehilangan. Kehilangan yang berbeda satu sama lain yang akhirnya menyatukan mereka. Freya kehilangan suaranya, Harun kehilangan kekasihnya, dan Nathaniel kehilangan segalanya. Insiden jatuhnya Freya dari jembatan dan menimpa Nathaniel yang menghubungkan mereka bertiga. Mau tak mau, ketiganya mengalami kejadian demi kejadian bersama-sama. Mulai dari bertemu dokter, bertemu keluarga Harun, menjalani misi berbahaya di kantor produser musik Freya, dan saling mengetahui rahasia masing-masing.

“So how about you give me a number so I can get you out of here. Sadness, zero to six?”
“You can’t measure sadness in numbers.”
“So how would you measure it?”
They may be complete strangers, with different lives and different problems, but there in that examination room they are measuring sadness the same way. They are measuring it in loss.

Karakter yang Tidak Biasa

Ketiga karakter utama di dalam novel ini benar-benar terasa nggak biasa. Freya keturunan Ethiopia yang tinggal bersama kakak perempuan dan ibunya. Harun, seseorang dari Pakistan yang berada dalam keluarga yang sangat agamis, sementara Nathaniel, laki-laki dengan bola mata kiri dan kanan yang berbeda, punya seorang ayah seorang pemimpi—yang menganggap mereka berdua adalah Frodo dan Sam dari The Lord of The Ring.

Latar belakang tersebut pada akhirnya membuat alur cerita semakin kompleks. Gayle Forman menulis tanpa mengesampingkan nilai-nilai yang tumbuh dalam keluarga masing-masing karakter, menjadikannya satu poin penting yang bisa kita nilai ketika membaca cerita. Saya jadi berpikir, “Oh, pantas Harun kesulitan berterus terang dengan keluarganya.” atau “Nathaniel mungkin lelah meladeni mimpi ayahnya yang kelewat imajinatif.”

“If I can’t sing, if I can’t do this one thing I love doing, this one thing I’m loved for, I’ll be alone.”
“I would love you even if you couldn’t sing.”

Buku ini menceritakan kehilangan dengan jujur, jenis kejujuran yang dalam dan terasa pedih. Tiap-tiap karakter menceritakan kehilangan mereka dengan emosi masing-masing yang menurut saya berhasil diciptakan oleh penulis. Gayle Forman menulis dalam tiga karakter dan ketiga-tiganya berhasil memberikan emosi yang berbeda seiring saya membacanya. Itu nggak mudah, lho. Bisa menulis lebih dari satu karakter dengan warna yang totally different itu adalah satu kelebihan sendiri bagi penulis. Karena saya merasakan sendiri susahnya seperti apa. Hiks.

Bahasa yang digunakan di buku ini juga sederhana, nggak banyak kata-kata yang rumit jadi nggak harus buka-buka kamus terus. Dengan kata-kata yang sederhana itu, tulisannya begitu apik. Suka banget!

Dari ketiga karakter, kehilangan yang dialami Nathaniel adalah yang menurutku paling menyedihkan. Tetapi aku paling suka perkembangan karakter Freya. Freya mencerminkan banyak hal, ketakutan akan pandangan orang lain, ketakutan akan kehilangan penggemar yang tadinya mencintainya, dan menurutku itu relevan dengan kehidupan zaman sekarang, di mana orang-orang seringkali fokus pada jumlah followers, retweet ataupun likes di media sosial. Lebih menyedihkan lagi, ketakutan itu bisa jadi malah membawa kita satu langkah menjauh dari orang-orang terdekat kita, seperti apa yang terjadi pada Freya.

“When a broken bone heals, it’s stronger than it was before the break. Same holds true for broken hearts. Go be with your people.” (hlm. 244)

Aku sangat menikmati bukunya. Karena bukunya emotionally deep, waktu baca jadi ikut merasa kelam gitu. Kalau buku ini diibaratkan warna, mungkin warnanya abu-abu. Ketika sampai di bagian terakhir, aku sedikit kecewa karena Gayle Forman memberikan ending gantung. Dari dulu, paling gemas sama ending sejenis ini. Yap, pembaca memang diberikan kesempatan berimajinasi tentang akhir kisah karakter-karakter di novel tersebut, tapi ya nanggung gitu.

Aku merekomendasikan buku ini untuk kamu yang suka baca novel Young Adult, terutama penyuka tipe-tipe cerita yang sedih dan emotionally deep.

*

Judul: I Have Lost My Way
Penulis: Gayle Forman
Penerbit: Simon & Schuster Ltd.
Halaman: 288 halaman
Tahun terbit: 2018
Price: Rp150358 (https://www.bookdepository.com/I-Have-Lost-My-Way/9781471173721)

Rating: 4/5

maybe you'll like this too

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.