Melakukan Sesuatu Seorang Diri, Apakah Salah?

“Make yourself a priority once in a while. It’s not selfish. It’s necessary.”

*

Tahun berganti tahun dan banyak orang yang masih menganggap bahwa melakukan sesuatu sendirian adalah sesuatu yang salah. Sudah bertahun-tahun saya menikmati melakukan sesuatu sendirian, seperti pergi ke bioskop, makan di restoran yang ingin saya datangi, atau sekadar duduk di coffee shop dan membaca buku. Hal-hal itu sangat menyenangkan untuk dilakukan. Yang nggak menyenangkan adalah ketika kalian melakukannya dan bertemu dengan orang yang dikenal. Yang dengan santai akan bertanya, “Kok sendirian? Temannya ke mana?” atau beberapa orang mungkin tidak perlu bingung mengatakan itu tapi punya pikiran sendiri seperti ‘duh, kok kasihan sih jalan sendirian. Nggak ada teman ya?’

Orang-orang mungkin harus berhenti berpikir bahwa melakukan hal-hal—yang lebih cocok dikategorikan sebagai social things—sendirian bukanlah hal yang salah. Mungkin harus ada yang menghentikan diri dari generalisasi seperti menyebut orang-orang itu sebagai ‘orang-orang kesepian’. Tidak ada yang salah dari saya atau orang-orang lainnya yang kadang memilih untuk melakukan sesuatu seorang diri.

Tidak ada yang pernah bilang bahwa me-time hanya bisa dilakukan di rumah, di kamar pribadi dengan pakaian nyaman, secangkir the hangat dan tumpukan buku untuk dibaca. Sometimes, I prefer having a date outside with my own self. Mengapa?

Saya punya pertanyaan untuk kalian semua, apakah kalian tidak pernah merasa lelah bersosialisasi? Saya, kadang, merasa saya harus berhenti berbicara pada orang. Duduk diam dan menikmati kencan dengan pikiran saya sendiri. Pada masa seperti itu, berbicara pada banyak orang, bersosialisasi seolah menyedot seluruh energi saya dan membuat saya lemas. Terdengar berlebihan? Bagi sebagian orang mungkin tidak.

Ketika berjalan seorang diri, self awareness akan lebih terlatih. Kalian akan lebih banyak memandang sekeliling, mengamati orang-orang di sekitar. Mungkin kalian selama ini melewati tempat makan yang ternyata enak karena selalu mengikuti rekomendasi teman kalian? Atau malah kalian tidak sadar bahwa barista di coffee shop favorit kalian itu ternyata ganteng. Hang out sendirian juga membuat kalian bebas ke mana saja, naik apa, mau makan apa, berapa lama, dan masih banyak yang lainnya. Kalian bisa memilih baju sesuka kalian, bolak-balik ke fitting room tanpa takut membuat seseorang menunggu. Kalian bisa keluar masuk restoran cuma buat mencicipi seporsi makanan. Kalian bisa melakukan apa pun yang kalian mau.

Bagaimana dengan nonton sendirian? Kalian pernah nonton film yang kalian suka, terus tiba-tiba merasa emosional tapi gengsi karena takut teman-teman bilang kalian lebay? Bayangkan kalau pergi sendirian, nangis pas adegan sedih juga nggak ada yang komen. Orang-orang di sekitar, gimana? Tunggu, mereka mungkin juga nggak akan ketemu kalian lagi, kan?

Kalau travelling sendirian? Ah, itu adalah cita-cita saya yang belum tercapai sampai sekarang! Solo travelling itu pilihan. Kalau saya, saya menganggap solo travelling sebagai moment of solitude dari diri saya sendiri. Dan itu (sekali lagi) tidak salah.

Berhentilah menghakimi orang-orang yang menikmati waktu sendirian sebagai orang-orang yang tidak punya teman. Mungkin mereka hanya sedang lelah dan merasa perlu waktu lebih untuk diri mereka sendiri. Stigma tentang orang-orang yang melakukan sesuatu sendirian harus diubah. Beberapa orang, ketika mereka sendirian, mungkin mereka sedang menikmati berkencan dengan pikiran-pikiran mereka, menghabiskan waktu untuk mencintai dan memahami diri mereka sendiri. Ini 2018, sudah saatnya kita berhenti mengecap buruk atau mengasihani orang-orang yang makan di restoran sendirian atau yang menonton bioskop sendirian. Saya yakin mereka tidak ingin dikasihani. []

pic source: elidefaria@Unsplash

maybe you'll like this too

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.