Memilih Bahagia

Apakah kamu sudah merasa bahagia beberapa waktu belakangan?

Topik tentang kebahagiaan ini saya akui bukan perkara gampang untuk dicapai atau dirasakan. Berapa dari kita yang mungkin masih kesulitan mendefinisikan kata bahagia bagi diri kita sendiri. Saya sendiri masih merasa seperti itu. Jika saya sendiri mencoba menjawab di atas, saya akan jawab “belum”. Akhir-akhir ini, lebih tepatnya beberapa minggu belakangan, saya mengalami kesulitan mengatur mood di tempat kerja, juga di keseharian. Saya menjadi lebih berantakan (walau biasanya memang sudah berantakan) dan—menurut saya—lebih tidak produktif.

Teman sekamar saya baru saja pulang dari perjalanan dinasnya dan seperti biasa, kami melakukan diskusi ringan—dengan topik yang berat. Tidak seperti biasanya yang hanya menggosipkan masalah hot news di kompleks, kali ini kami berbicara soal masa muda, masa depan, dan hal-hal yang harus kami lakukan di masa sekarang. Salah satu yang akhirnya mengusik pikiran saya itu mengenai memilih salah satu dari sekian banyak ketertarikan.

Mungkin kalian pernah dengar istilah jack of all trades, master of none. Begitulah kira-kira saya. Setelah share tentang ini di Twitter semalam, saya menemukan bahwa memang banyak teman-teman yang juga seperti ini. Punya banyak ketertarikan, mengerjakan ini dan itu sementara sebenarnya nggak benar-benar ahli di mana pun. Pertanyaannya adalah ketika hal tersebut dijadikan kesempatan untuk mengembangkan karir, yang mana yang harus dipilih? Gimana mau milih deh, masalahnya kasus saya adalah, saya sama sekali nggak merasa punya bakat ‘lebih’ pada satu di antara sekian banyak hal yang suka atau sering saya lakukan.

Setelah membaca jawaban teman-teman di Twitter juga, saya sebenarnya merasa sedikit lega walaupun masih ada yang ngeganjel. Banyak yang bilang supaya saya nggak terlalu pusing soal ini. Jalani, eksplor perlahan-lahan, dan lihat mana yang benar-benar nggak akan bikin saya bosan meskipun saya kerjakan terus-menerus. Ada yang bilang kerjain yang bisa bikin saya bahagia. Beberapa teman yang sempat saya ajak bertukar pikiran tentang ini malah membuat saya bersyukur karena punya banyak ketertarikan dan masih bisa melakukan ini dan itu di sela-sela waktu luang yang nggak banyak.

Bener deh. Semakin saya berpikir soal ini, saya semakin stress. Saya semakin nggak bisa berpikir jernih. Dan saya pikir, semakin lama memikirkan ini, hal ini bisa jadi racun sendiri untuk diri saya. Jadi, malam ini saya memutuskan mengambil jalan yang lebih sederhana. Jalan sederhana ini, mungkin akan menjauhkan saya dari kesedihan dan stres yang berlarut-larut. Saya memilih menerima diri saya, dan seluruh ketertarikan saya pada apa pun, atau ketidaktertarikan saya pada sesuatu. Saya memilih melakukan apa yang bisa saya lakukan dan apa yang saya suka.

Sederhananya, saya memilih untuk melakukan sesuatu yang membuat saya bahagia. Saya memilih untuk bahagia. Dan langkah pertama yang harus dilakukan untuk itu adalah dengan berhenti larut dalam pikiran yang mungkin malah membawa diri saya stres berkepanjangan. Gimana mau bahagia kalau tiap saat bawaannya berpikir negatif dan stres, kan? Kalau kamu sekarang lagi merasa negatif dan stres, mungkin kamu bisa coba tanya ke diri kamu tentang apa yang jadi kegalauanmu dan pelan-pelan cari jalan keluar dari sana. Bilang sama dirimu sendiri ‘aku memilih bahagia’. Selamat menemukan kebahagiaan!

photo credit: Unsplash

 

maybe you'll like this too

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.