Christmas Once More

“And the thing that will make them ring is the carol that you sing right within your heart.”

*

Malam Natal selalu saja terasa sibuk. Dari pagi hingga malam tiba, semua orang dewasa akan disibukkan dengan urusan dapur, menata rumah sedemikian rupa, juga misa di gereja. Sejak dua minggu lalu, rumah-rumah di Gastown sudah mulai dipenuhi lampu-lampu. Rumah Ben di ujung jalan sudah memasang kabel dengan lampu-lampu kecil untuk semak-semak di sepanjang pagar kayu mereka. Rumah Janice di sampingnya memasang rangkaian bunga berbentuk lingkaran di depan pintu. Adik Janice, Jen, paling suka menghias kotak surat mereka dengan kertas-kertas berwarna hijau dan merah.

Toko-toko mainan di pusat kota mulai berlomba memamerkan produk terbaik mereka. Dari boneka hingga pistol  mainan tanpa peluru. Dari mainan kayu, hingga mainan yang dipenuhi automasi. Dari boneka beruang berbulu lebat hingga Barbie cantik dengan gaun panjang seperti putri.

Musim dingin bertambah dingin. Anak-anak menanti salju, sementara sibuk menumpuk pakaian mereka menjadi satu, menghalau dingin yang terobsesi bermain dengan kulit. Tapi diam-diam semuanya mendambakan salju. Akan cantik jika dia turun di hari Natal, tapi tidak. Lebih baik jika salju turun sebelum Natal, tepat ketika malam datang.

Tapi yang paling membahagiakan selama Natal bagiku adalah mendengarkan cerita Nenek Woodley.

*

Nenek Woodley tidak menyukai cerita dongeng seperti Cinderella, Putri Salju, dan cerita-cerita lainnya. Nenek Woodley hanya suka menceritakan apa yang dialaminya—yang awalnya kukira membosankan. Tapi benar, pada awalnya, cerita Nenek Woodley memang membosankan. Ia menceritakan tentang Natal pertamanya di usia enam belas tahun. Natal pertamanya ketika dia bertemu dengan seorang laki-laki muda yang tampan di acara pesta dansa Natal sekolahnya.

“Apakah dia Grandpa?” tanyaku.

“Dia bukan Grandpa,” sahut Nenek Woodley.

“Dia adalah laki-laki yang kusayangi lebih dari Grandpa.” Ketika mendengarnya, semua anak—yang terdiri dari aku, Ben, dan Janice—membelalakkan mata kami. Usia kami empat belas tahun, dan tentunya sudah cukup paham tentang arti dari sayang. Sayang, seperti yang sering Dad ucapkan pada Mom sebelum dia mencium kening Mom saat akan tidur.

“Kau akan membuat Grandpa cemburu, Granny!” celetuk Ben.

“Benar. Tapi sayangnya, saat itu aku belum bertemu dengan Grandpa. Lagi pula, dia tidak akan cemburu.”

Kemudian Nenek Woodley mulai bercerita tentang laki-laki itu. Laki-laki bermata biru, yang menyanyikan carol lebih baik dari anggota paduan suara mana pun di Gastown. Suara basnya memberikan kesan maskulin yang sudah jelas membuat gadis-gadis jatuh cinta.

“Suaranya pasti tidak cempreng seperti Ben!” sahut Janice.

“Suaraku tidak cempreng!” Ben kesal dibilang cempreng langsung menyanggah Janice cepat.

“Sudah! Kalian bisa berhenti bertengkar, tidak? Atau aku tidak akan melanjutkan ceritaku.” Nenek hanya menggertak dan semua anak-anak menjadi bungkam, kecuali aku. Mengapa aku? Pertama, karena aku bukan anak-anak. Kedua, karena aku tidak takut pada Nenek Woodley.

“Apa kau menyukai suaranya juga, Granny?” tanyaku.

“Ya. Aku suka suaranya, juga tubuh tegapnya di balik jubah paduan suara berwarna putih dengan tepian emas. Menyayangi terasa sangat menyenangkan. Tunggu, biar kuralat ucapanku. Menyayangi seseorang yang menyayangimu akan terasa sangat sempurna.”

“Lalu, jika kalian saling menyukai, mengapa Granny tidak bersama dengannya? Granny malah bersama Grandpa.”

Aku tidak tahu suara siapa itu, tapi pertanyaan anak kecil usia empat belas tahun ternyata dapat menggelitik rasa penasaran di dadaku. Pertanyaan yang membuatku berspekulasi pada jawaban-jawaban yang akan diberikan Nenek.

“Karena laki-laki itu meminta Granny menunggu.”

Di sanalah cerita menyedihkan Nenek Woodley dimulai. Sejak pertemuan mereka—Granny dan laki-laki yang disukainya—Granny diam-diam menyukai laki-laki itu. Mereka pergi menghias pohon Natal bersama-sama, membeli kalkun untuk makan malam di malam Natal, kemudian mengisi kaos kaki dengan permen beraneka ragam. Di sela-sela pekerjaan, Nenek Woodley akan membuatkan Earl Grey kesukaannya. Mereka berbelanja bersama, menyusun pohon Natal di dalam rumahnya, dan menyanyikan carol bersama-sama.

Setiap Natal selama empat tahun, Nenek Woodley mengulang kisah tersebut bersama sang kekasih. Sayangnya, malam Natal tak selamanya gemerlap. Salju yang putih dan indah juga bisa berubah menjadi badai. Rangkaian bunga di pintu dapat putus dan terjatuh, serta lampu-lampu yang menghias jalan bisa saja padam.

Laki-laki itu dan keluarganya berpindah ke bagian selatan Amerika. Yang diminta laki-laki itu dari Nenek Woodley adalah menunggu. Maka ia melakukannya.

Sejak itu, Natal Nenek Woodley tak pernah lagi terasa sama.

*

Dua tahun lalu, Kakek Woodley meninggal dunia tepat di malam Natal. Semua orang di sepanjang jalan bersedih. Kakek Woodley adalah sosok periang yang mudah membuat orang jatuh cinta. Dia memotong semak hingga berbentuk oval, juga menanam bunga mawar beraneka warna di depan rumahnya. Sesekali anak-anak diizinkan untuk memetik. Sesekali, Kakek Woodley membuat rangkaian untuk dibagikan pada anak-anak. Aku tentu saja selalu mendapatkan satu.

Dari matanya yang mulai sayu, aku melihat kecintaannya pada Nenek yang begitu besar. Maka ketika Nenek Woodley termenung di pekarangan sambil mendengarkan lagu-lagu lama, Kakek Woodley akan dengan senang hati membuatkan teh kesukaannya dan menemani Nenek yang termenung. Mereka berdua menyelam dalam hening. Sedikit aneh memang, tetapi begitu menenangkan untuk dilihat.

Tahun ini, Natal juga tidak terasa sama. Terutama bagiku.

Usiaku delapan belas tahun, dan pasangan pesta dansa Natalku, Drake, memutuskan untuk pulang ke tempat asalnya di North Carolina.

Tahun ini, Natal juga tidak terasa sama, karena Nenek Woodley memutuskan untuk berhenti menunggu dan bercerita.

“Jen, jika kau sudah siap, kami menunggumu di bawah!” Suara Mom terdengar dari bawah. Aku mengikat tali pada cape hitamku kemudian mengenakan sepatu bergaya Victorian, hadiah Natal dari Nenek Woodley tahun lalu. Entah mengapa, Nenek selalu memberikan hadiah Natal untukku—meski tidak untuk yang lainnya.

Maka ketika kami semua tahu bahwa tak ada lagi cerita Nenek Woodley tahun ini dan tahun-tahun berikutnya, mungkin aku salah satu yang merasa paling terpukul.

Aku lekas menuruni anak tangga ketika Mom sudah mengulang panggilan. Ketika keluar dari gerbang, kulihat seorang laki-laki tua berbincang dengan Dad sambil melepaskan topinya. Di sampingnya, kulihat Nenek Woodley menatapku sambil tersenyum.

“Kau menunggunya dengan sangat baik, Granny.”

fin.

maybe you'll like this too

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.