Yang Tersimpan, Yang Terindah

image

doc. Pri Wahyu via Instagram

Yang Tersimpan, Yang Terindah

a short story by dhamalashobita

Malam di luar pekat. Dan siapa sangka dari jutaan gambar yang diambilnya, milikku ada di tengah. Kau tentu tahu tengah, bukan? Pusat. Seperti matahari sebagai pusat tata surya. Dikelilingi ribuan bintang dan planet. Dan di antara pekatnya malam yang diterangi pendar dari bola lampu yang menyala remang-remang, wajahku dengan lipstik merah pekat terlihat berwarna, di antara puluhan foto hitam putih.

*

Continue Reading

[Review] Keluar dari Zona Nyaman dengan Magi

Judul        : Magi Perempuan dan Malam Kunang-Kunang

Penulis      : Guntur Alam

Penerbit    : Gramedia Pustaka Utama

Terbit        : Cetakan Pertama, Agustus 2015

Tebal        : 176 halaman

ISBN        : 978-602-03-1939-1

Kategori   : Kumpulan Cerpen

“…dan tahukah kalian kunang-kunang itu lahir dari apa?”

“Kuku orang mati.” – Magi Perempuan dan Malam Kunang-kunang, hlm. 11-12

Continue Reading

Powdery Snow (Konayuki)

Powdery Snow (Konayuki)

by dhamalashobita

*

“In the season when powdery snow falls, we always lose each other. Even if we see the same sky lost in the crowd, even if we both freeze alike in the cold wind.” – Remioromen’s Konayuki

Continue Reading

Lewat Suara Lirih dan Setetes Darah

Lewat Suara Lirih dan Setetes Darah

by dhamalashobita

*

1:58

Kamar apartemen tanpa cahaya, gorden yang berkibar tertiup angin, beberapa bungkus keripik yang bertebaran dekat sofa lengkap dengan remahannya, botol-botol vodka kosong dan beberapa yang terbelah dua, dengan sisa-sisa likuid di lantai serta pecahan botol berwarna hijau dekat kaki Clair.

Continue Reading

Come Home

Rural cedar wood home in spring reflected in lake with blooming spring dogwood and wildflowers
Rural cedar wood home in spring reflected in lake with blooming spring dogwood and wildflowers (gbi.photoshelter.com)

Come Home

by dhamalashobita

Lagu itu tidak pernah sesyahdu lagu-lagu balada lainnya. Tidak ada suara orkestra ramai yang melatarbelakangi nada-nada berlirik tersebut. Suara tuts-tuts piano adalah satu-satunya yang terdengar di belakang suara Ryan Tedder di awal lagu. Itu pun hanya berupa chord yang dibunyikan bergantian. Bukan melodi-melodi balada romantik kontemporer seperti milik Yiruma.

Tapi, selalu ada yang bisa membawaku ke dalam dunia lain dari lagu itu. Dunia yang diam-diam sedang kuciptakan sendiri dalam imajinasiku.

*

Continue Reading