Ketika Resolusi Awal Tahun Tidak Berjalan Sebagaimana Mestinya

Ada dua jenis kepribadian seseorang dalam mengawali tahun yang baru. Pertama, seseorang yang merencanakan tahun barunya dengan target-target baru atau dengan satu goal yang harus dicapai. Sementara orang yang lainnya mungkin adalah tipe happy-go-lucky yang menjalani tahun baru seperti tahun-tahun biasanya. Tidak ada target-target spesifik untuk tiap tahun yang akan berganti. Saya yakin kedua-duanya tidak keliru. Kita selalu punya prinsip yang berbeda sebagai individu dalam menjalani hidup.

Bercerita tentang diri sendiri, saya adalah tipikal si pembuat resolusi awal tahun. Dalam setahun, setidaknya saya merasa harus menetapkan sesuatu yang harus saya capai. Saya melakukannya sejak berada di bangku kuliah dan keterusan sampai saat ini. Biasanya, saya akan menuliskan semuanya di dalam buku catatan atau jurnal untuk saya review di akhir tahun. Ya, benar-benar direview, apa yang tercapai, apa yang belum tercapai. Meskipun belum sampai sedalam menggali mengapa resolusi-resolusi tersebut tidak tercapai. Di akhir tahun ini, rasa malas untuk melakukan review untuk resolusi 2019 besar sekali. Saya pikir, ini pengaruh mood swing semata, tapi ternyata bukan. Setelah saya pikirkan, sepertinya hal ini karena banyak resolusi saya yang tidak tercapai di tahun ini. Saya sedikit sedih dan mungkin kecewa sampai nyaris lupa kalau ada berkat lain yang datang dan saya masih perlu melanjutkan hidup dengan lebih baik.

Akhirnya dengan berat hati, saya buka-buka lagi tuh resolusi awal tahun yang saya catat di jurnal dan berpikir tentang rootcause kenapa sih resolusi saya itu sampai nggak tercapai tahun ini. Setelah melihat-melihat, sepertinya tidak tercapainya resolusi itu dikarenakan beberapa hal berikut.

 

1. We have no purpose of the resolution

Waktu saya lihat lagi resolusi apa yang belum tercapai, saya menemukan beberapa resolusi yang saya juga bingung kenapa awal tahun ini bisa saya tuliskan di jurnal saya. Sepanjang tahun, rasanya saya tidak menyentuh hal yang berhubungan dengan resolusi itu. Anggaplah ada salah satu target awal tahun yang menyatakan bahwa saya ingin tidur selama 8 jam per hari. Pada kenyataannya saya tidur hanya 5 jam per hari. Tentu saja, selain menulis tidur 8 jam per hari tanpa memikirkan tentang tujuan atau manfaatnya, target itu mungkin juga kontradiktif dengan target lainnya. Misalnya, target lainnya adalah menulis buku motivasi dalam waktu satu bulan. Sebagai pekerja korporat, tentu membagi waktu antara pekerjaan, kesehatan, dan kegiatan sampingan atau hobi, bukanlah sesuatu yang mudah. Di antara beberapa target tersebut, haruslah ada sebuah tujuan utama, purpose, dan seringkali kita harus mengorbankan salah satu untuk mencapai yang lainnya. Dari sana aku belajar, sebelum menentukan resolusi tahun depan, aku akan menentukan lebih dulu what is my upcoming year purpose? Kalau sudah bisa menentukan ini, aku lebih kurangnya yakin, rencana-rencana yang dibuat akan mengacu pada tujuan tersebut dan bisa kita lakukan dengan sungguh-sungguh.

 

2. Terlalu banyak target yang ingin dicapai

I wrote too many targets! Saya geleng-geleng kepala waktu membuka halaman jurnal 2019 saya. Wow. Siapa yang menulis sebegitu banyak resolusi untuk awal tahun? Betapa ambisiusnya kamu, begitu yang saya bilang pada diri saya sendiri. Karena itu juga sepertinya otak saya kesulitan memilah mana yang harus dicapai lebih dulu, harus melakukan apa, dan fokusnya jadi berpindah-pindah antara target A, B, C, atau D. Selain itu, ketika membuat resolusi, kita diajak berpikir bahwa itulah yang harus kita capai selama setahun ke depan, tapi kadang kita lupa memberi ruang untuk diri sendiri untuk sebuah kegagalan. Efeknya ya seperti yang saya rasakan kurang lebih. Saya merasa 2019 bukan tahun yang baik karena banyak dari target tahunan saya yang tidak tercapai. Saya tidak memberikan ruang yang cukup untuk kegagalan, sehingga membuat diri ini melupakan berkat-berkat lain yang nyatanya sama besarnya dengan target yang tidak tercapai itu.

Kalau kalian sekarang sedang menyusun resolusi awal tahun, coba deh untuk focus ke beberapa hal ketimbang menuliskan segunung target. Saya sedang mencoba itu. Saya menuliskan beberapa point penting, yang nantinya bisa dijabarkan lagi pada rencana-rencana tindakan.

 

3. Resolusi tidak realistis dan tidak spesifik

Mau nikah sama Raisa. Ke luar negeri.

Oke, nggak ada yang salah dengan itu. Saya juga sering banget kok bilang mau ketemu BTS. Tapi nikah sama artis yang sudah menikah, jelas itu bukan target yang realistis. Ke luar negeri, mungkin dengan menuliskan seperti itu, resolusi itu bisa juga tercapai kok. Tapi itu kurang spesifik. Ke luar negeri mana tepatnya? Kalau tiba-tiba kamu dapat kesempatan perginya ke negara manapun yang kamu nggak suka, apakah kamu akan tetap menganggapnya resolusi itu tercapai?

Pernah dengar konsep S.M.A.R.T dalam menentukan target? Dalam menentukan target, sebaiknya target itu spesific, measurable, achievable, realistic, dan timely. Tentukan itu secara spesifik, anggaplah kamu punya resolusi travelling ke luar negeri di tahun 2020, buat lebih spesifik menjadi seperti ini.

“Di tahun 2020, saya akan pergi ke Phuket dan Bangkok.”

Setelah itu, barulah rincikan apa rencana tindakan yang harus dilakukan untuk mencapai itu. Tabungan? Berapa nominalnya? Kapan kamu harus mencapai nominal itu?

 

4. Tidak ada progress tracking

Beberapa resolusi saya tahun ini tidak pernah saya lihat kemajuannya dari waktu ke waktu. Satu, saya terlalu focus pada hal lain karena terlalu banyaknya resolusi. Kedua, saya melupakannya begitu saja. Sebenarnya, dengan tracking kemajuan dari hal-hal tersebut, kita jadi tahu seberapa jauh kita sudah melangkah, apa yang harus kita lakukan lagi untuk membuat resolusi itu tercapai.

 

5. Tidak menikmati proses

Hal lainnya mungkin erat dengan fenomena hangat-hangat tahi ayam. Di awal tahun, mungkin kita disibukkan dengan hype dari A, kemudian ternyata itu bukan hal yang kita sukai, ditambah kita tidak tahu purpose kita. Fix, bagaimana bisa kita menikmati proses untuk mencapai resolusi itu? Kalau kamu merasa itu bukan hal yang krusial dalam hidupu, dan kamu tidak menikmati prosesnya, tinggalkan sebentar, cari apa yang kamu dapat dari target tahunan itu, cari bagaimana cara menikmati prosesnya jika kamu ingin tetap mencapainya.

 

6. Tidak percaya pada diri sendiri

Ada beberapa poin resolusi yang mungkin hasil dari bawaan resolusi tahun lalu. Di tahun lalu, mungkin saya kesulitan merealisasikannya kemudian menjadi tidak lagi percaya diri untuk melakukannya di masa sekarang. Sangat wajar. Bagi saya, kepercayaan diri adalah hal yang sangat sulit. Beberapa resolusi 2019 saya tidak tercapai juga karena ini. Saya berkali-kali ingin melakukan sesuatu kemudian berpikir “Kayaknya susah deh kalau begini” atau “Ini nggak bisa deh kalau dikerjain di sini”, dan akhirnya saya tidak melakukannya sampai 2019 habis.

 

7. Tidak adanya support

You never walk alone. Kalau kamu merasa kesulitan melakukan seorang diri, cari orang-orang terdekat yang bisa membantumu. Misalnya, kamu punya target menerbitkan buku, tapi bingung bagaimana untuk mulai menulis. Coba berbincang dengan teman-temanmu, lakukan brainstorming. Salah satu teman saya, Mbak Lia Nurida, menyarankan ini waktu saya cerita soal target tulis-menulis yang tidak tercapai. And I realized that I’m lacking on that. Bukan support, melainkan lebih ke diskusi dan brainstorming dengan orang yang mengerti akan apa yang sedang saya targetkan.

 

Ya, itu dia beberapa alasan mengapa resolusi tahun baru kita mungkin nggak tercapai. Alasan itu mungkin relatable untuk beberapa teman-teman dan nggak untuk yang lainnya. Oh iya, selain membuat resolusi awal tahun, ada juga metode dengan menentukan satu topic atau word of the year sebagai bekal untuk melakukan rencana-rencana tahun baru. Menurut saya, itu punya tujuan yang sama dengan resolusi. Kalian bisa memilih yang mana yang sesuai dengan kalian.

Bagaimana pun hasil dari resolusi 2019 kita, di hari-hari terakhir tahun ini, semoga kita bisa berkata pada diri sendiri bahwa kita sudah melakukan hal yang baik selama setahun ini. Ada hal-hal yang mungkin nggak ada di resolusi kita tapi sudah kita capai dengan sendirinya, itu juga pencapaian. Selamat karena sudah melewati 2019 dengan baik. Mari kita bersiap-siap menyambut 2020 dengan meninggalkan penyesalan di tempat sekarang dan menjadikannya pelajaran. Jangan juga bandingkan pencapaian kita—sesedikit apa pun itu—dengan pencapaian orang lain, ya. Bandingkan dengan diri kita di masa lalu, satu-satunya perbandingan yang sebaiknya kita lakukan.

Semoga 2020 menjadi tahun yang lebih ramah, lebih baik, dan lebih menyenangkan untuk kita semua. Selamat tahun baru! 🙂

 

maybe you'll like this too

26 Comments

  1. Aku baru bikin alasan kenapa kita musti punya resolusi tapi aku setuju dengan kak Mala. Maksudku , terlalu banyak membuat list juga tidak baik karena kita jadi seperti dikejar waktu. Dan kita perlu ruang untuk kegagalan dan belajar dari hal tersebut.

    Bagus banget kak!

    1. Amin. Setidaknya, kita udah mikir tahun ini mau ngapain. Dicoba aja, kalau memang merasa nggak masuk juga, mungkin bukan itu yang kita butuhkan. Mungkin kita tipe orang yang nggak bisa pakai resolusi-resolusi awal tahun untuk mencapai target.

  2. Sepertinya memang harus punya resolusi dan target yang ingin dicapai di 2020 ya mala. Biar bisa melihat apa hal yang perlu diperbaiki dan dirubah klo tidak sesuai dengan target.
    Keep fight!

  3. Resolusi tanpa review sama kayak ngisi to do list harian kalau ga diliat ulang bisa cuma jadi list doang ya. Semangat jadi lebih baik di tahun 2020..

  4. Betul nih, poin-poin yang disebutkan. Resolusi kita memang sebaiknya realistis dan spesifik ya. Sama dengan doa. Kita harus punya gambaran jelas tentang resolusi yang kita buat. Semoga tahun ini lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya.

  5. Bagiku resolusi itu penting biar kita lebih terarah dalam bertindak. Tetapi aku juga ga mau menjadi beban. Jangan sampai stress gara2 resolusi awal tahun ga terwujud.

  6. Semoga 2020 menjadi tahun yang lebih ramah, lebih baik, dan lebih menyenangkan untuk kita semua. Selamat tahun baru! Aamiin kenceng for that!

    Let all the failures of our past year be our best guide in the new year! Semangat Mala!

  7. MakJleeeebb

    Bener banget Mal, kalau punya resolusi harus yg bisa kita tracking,

    Kebiasaan bikin resolusi karena ikut2an, biar keren wkwkwkw

    Makanya biasanya jarang kesampean.

    Thanks for the article Mal, berguna banget buat pengingat.

  8. iyasih aku sama kayak kamu eaaa
    suka nulisin resolusi, ntar di akhir tahun baru deh ngecek apa aja yang udah dicapai. Trus kalau belom, aku lanjut ke tahun ya baru.

    Semoga kita tetap semangat menggapai resolusi yang udah kita buat ya Mala, dan jangan lupa dibarengi dengan doa 🙂

Leave a Reply to mutia nurul rahmah Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.