Goodbye 2018: Living, Loving, and Learning

credit: alexandre_godreau@Unsplash

Saat saya memulai tulisan ini, saya nggak tahu apakah bisa menyelesaikannya sebelum tahun 2018 berganti. Masih ingat, setahun lalu, sambil mati lampu saya menulis di jurnal tentang apa-apa yang ingin saya capai di tahun 2018. Tentang mencintai diri sendiri, termasuk menerima diri sendiri di dalamnya. Saya rasa saya berhasil melakukannya, belum seratus persen memang, tapi saya berjalan ke sana. Menurut saya, yang lebih penting dari mencintai diri sendiri adalah proses yang ada di dalamnya. Saya perlahan-lahan tahu kekurangan diri dan menerimanya, berdamai dengan kekurangan. Perlahan-lahan, sedikit demi sedikit.

Tapi tahun ini bukan tentang itu. Beberapa kali saya berpikir tentang apa-apa yang sudah dicapai di tahun 2018, apa yang membuat saya bersyukur dalam setahun ini dan yang terlintas di pikiran adalah kehadiran orang-orang yang saya sayangi, juga kehadiran orang-orang yang membuat saya belajar mengenai diri saya sendiri.

Saya percaya, ada orang-orang yang datang dan pergi dari dan ke dalam hidup kita. Semuanya memiliki peran masing-masing, mengajari kita hal yang berbeda-beda. Setahun ini, sosok BTS sebagai idola mengisi hari-hari saya, mengajari saya macam-macam hal, dari cara mencintai diri sendiri, sampai buku-buku bagus yang harus saya baca. Selain hal-hal semacam fangirling, mereka membawa serta sahabat-sahabat yang saya nggak pernah sangka kehadirannya. Kalau bukan karena BTS, ya mungkin kami nggak akan ketemu. Kalau garis kami nggak bersilangan, mungkin kami nggak akan bisa sedekat ini. Menertawai masa lalu dan masa sekarang satu sama lain, menyusun mimpi sama-sama, memberi bahu saat satu atau yang lainnya butuh sandaran. Jarak mereka nggak dekat, tapi keberadaan mereka selalu terasa. Lambat laun, kehadiran mereka menjadi bagian terpenting dalam hidup. Absensi mereka akan jadi yang saya pertanyakan hanya dengan pesan yang berisi rindu. Terima kasih, karena selalu mengerti tanpa menghakimi, terima kasih karena selalu ada ketika dunia terdekatmu bahkan mulai menghakimi. Terima kasih sudah berbagi mimpi, berbagi tawa, tangis. Ibarat kapalnya BTS, terima kasih sudah jadi ‘Mon’ untuk VMon-ku, terima kasih sudah jadi ‘Min’ untuk VMin-ku, terima kasih sudah jadi ‘Gi’ untuk Taegi-ku. Duh, aku belum dapat ‘Kook’ buat Taekook.

Sahabat-sahabat jarak dekat yang selalu ada, yang selalu bertanya ‘kenapa kamu nangis’ padahal saya kadang nggak punya alasan jelas kenapa saya nangis. Sahabat yang waktu ulang tahun kemarin nggak ada di tempat tapi tetap titip kue supaya saya bisa tiup lilin. Sahabat-sahabat yang meskipun dekat nggak pernah jalan bareng, saya juga nggak ngerti kenapa. Kita nggak perlu rayain ulang tahun sama-sama, nggak perlu pergi jalan setiap weekend, nggak perlu merayakan apa-apa sama-sama. Saya akan tetap tahu kalian akan selalu ada, begitu pun sebaliknya.

Banyak orang-orang luar biasa yang saya temui tahun ini, orang-orang yang memberikan inspirasi dan pelajaran. Senang bisa mengenal kalian. I know I have made my year surrounded with people I love, people who support me, and who inspires me. I made myself surrounded by people who are kind, who leads by love because they do not judge, they support, they gives me positive vibes.

Ada beberapa hal yang saya dapat di sepanjang 2018 ini, saya rangkum jadi list berikut:

  • Surround yourself with people that support you, loves you
  • Be kind
  • Yakinlah pada mimpimu. Buat ia jadi tujuan. Tapi yang paling penting, yakin
  • It’s okay to not feel okay, it’s okay to say no sometimes
  • Once in a while, take a breath

Dalam hati, sebenarnya saya takut. Takut tahun depan nggak berjalan sesuai rencana. Takut tahun depan nggak berjalan sebaik tahun ini. Tapi ketakutan-ketakutan itu nggak akan membuat hidup kita berjalan. Ketakutan-ketakutan itu akan terus membuat saya jalan di tempat. Maka saya memutuskan untuk menepis ketakutan itu dan menjalani tahun baru dengan keyakinan, harapan, dan do’a. Kalau tahun ini bisa lebih baik dari tahun sebelumnya, mengapa tahun depan nggak bisa lebih baik dari tahun ini?

Terima kasih 2018, terima kasih untuk memori indah—sangat indah—yang sudah terjadi sepanjang tahun. Terima kasih atas kesehatan, rezeki, nikmat, pelajaran dari kehilangan, pelajaran apa pun dari kehidupan, cinta, asa, mimpi-mimpi yang terwujud, perjalanan-perjalanan, kisah-kisah, tawa, tangis, amarah, kecemasan, pikiran-pikiran negatif dan positif, terima kasih juga untuk kehidupan itu sendiri.

Mari bernapas lagi, mari menata hidup lagi, meraih mimpi-mimpi lagi, menjalani hidup lagi, dan yang paling penting, mari membagi kasih sayang dan kebaikan-kebaikan lagi.

Mengutip lirik dari lagu terbaru Jimin berjudul Promise, saya mengingatkan diri saya sendiri dan kalian yang membaca ini, “I want you to be your light, you should be your light. So that you won’t be hurt anymore, so that you could smile more. Now promise me, even if you feel alone, don’t throw yourself away.”

Selamat tinggal 2018, selamat datang 2019.

Semoga semua baik adanya.

maybe you'll like this too

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.